
Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian di bidang kesehatan khususnya keperawatan anak, STIKES Buleleng kembali menunjukkan komitmennya dengan menyelenggarakan seminar nasional bertajuk “Integrasi Terapi Komplementer pada Anak: Meningkatkan Kenyamanan dan Kesejahteraan dalam Praktik Klinis” yang berlangsung di STIKES Buleleng Convention Center (SBCC) Kampus 1 STIKES Buleleng.

Acara bergengsi ini sukses mendatangkan pakar terkemuka dari Fakultas Keperawatan Universitas Indonesia, yakni Ns. MEGA HASANUL HUDA, S.Kep., MARS, M.Kep., Sp.Kep.An., PhD., yang dikenal luas karena penelitiannya tentang transformasi digital dalam sistem pelayanan kesehatan primer di Indonesia.
Kehadiran Ns. MEGA HASANUL HUDA, S.Kep., MARS, M.Kep., Sp.Kep.An., PhD. disambut antusias oleh lebih dari 500 peserta yang terdiri dari dosen, mahasiswa, praktisi rumah sakit, dan tenaga kesehatan dari berbagai Kabupaten di Bali.
Seminar ini juga menghadirkan pembicara lain dari Prodi Kebidanan Bdn. Putu Dian Prima Kusuma Dewi, S.ST., M.Kes. dengan materi, “Integrating Touch and Taste: Synergi Physical & Local Nutritional Therapy” dan Prodi Farmasi, apt. Retno Lisnawati, S.Farm., M.Farm. dengan materi “Complementary Therapy in Children: Between Tradition and Evidence“, sehingga menciptakan diskusi yang sangat komprehensif mengenai tantangan dan peluang di era pasca-pandemi.

Ketua Panitia pelaksana, Ns. Made Rismawan, S.Kep., MNS. melaporkan bahwa pendaftaran seminar ditutup lebih awal karena lonjakan minat yang luar biasa dari mahasiswa dan praktisi klinik yang telah bekerjasama dengan STIKES Buleleng. Hal ini membuktikan bahwa STIKES Buleleng telah menjadi pusat perhatian bagi komunitas kesehatan di Bali, khususnya dengan kegiatan-kegiatan ilmiah ilmiah dan membahas isue terkini di bidang kesehatan.
Ketua STIKES Buleleng, Dr. Ns. I Made Sundayana, S.Kep., MSi., M.Kes, dalam sambutannya menyampaikan bahwa seminar nasional ini merupakan bagian dari wujud nyata dedikasi dalam menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan praktik lapangan.

Beliau menjelaskan bahwa pemilihan topik tentang teknologi dan kearifan lokal bukan tanpa alasan, karena masyarakat Buleleng memiliki kearifan dalam pengobatan tradisional yang perlu diintegrasikan dengan teknologi modern untuk hasil yang lebih optimal.
Menurut Dr. Sundayana, menghadirkan pakar dari Universitas Indonesia adalah langkah strategis untuk membuka wawasan baru bagi seluruh sivitas akademika, terutama dalam hal metode penelitian mutakhir dan kebijakan kesehatan nasional yang berbasis data.
Beliau berharap seminar ini dapat memicu kolaborasi riset antara STIKES Buleleng dengan Universitas Indonesia, khususnya di bidang pengembangan model layanan kesehatan untuk daerah kepulauan dan pegunungan.
Selain itu, pihak kampus juga menginisiasi program pendampingan bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan studi pascasarjana di universitas-universitas besar di Pulau Jawa melalui jaringan akademik yang diperkuat dalam seminar ini.

Ns. MEGA HASANUL HUDA, S.Kep., MARS, M.Kep., Sp.Kep.An., PhD., selaku pembicara kunci dari Universitas Indonesia, memaparkan materi tentang “Evidence-Based Complementary Therapy in Pediatric Clinical Practice” yang langsung menyita perhatian seluruh peserta karena relevansinya dengan kondisi geografis Buleleng yang memiliki wilayah pegunungan dan pesisir.
Dalam presentasinya yang berlangsung selama 90 menit, Ns. MEGA HASANUL HUDA, S.Kep., MARS, M.Kep., Sp.Kep.An., PhD. menunjukkan data bahwa penerapan terapia komplementer kepada kesehatan bayi dan balita.
Lebih lanjut, Bliau mengapresiasi langkah STIKES Buleleng karena telah mengundang pembicara dari kampus lain sebagai bentuk terbuka terhadap ilmu pengetahuan, yang menurutnya jarang terjadi di perguruan tinggi daerah.
“Saya sangat terkesan dengan antusiasme mahasiswa di sini karena mereka tidak segan mempertanyakan aspek etika dan keamanan data dalam penggunaan kecerdasan buatan untuk diagnosis, sebuah pertanyaan tingkat lanjut yang biasanya muncul di forum internasional,” ujarnya di akhir sesi.
Sesi diskusi interaktif yang dipandu oleh moderator dari Waka 1 Bagian Kurikulum STIKES Buleleng, Ns. Gede Budi Widiarta, S.Kep., M.Kep. berlangsung sangat hidup, dengan puluhan pertanyaan kritis yang diajukan oleh peserta dari berbagai latar belakang profesi.

Seorang mahasiswa semester akhir STIKES Buleleng juga mengajukan gagasan inovatif tentang pengembangan aplikasi berbasis kecerdasan lokal untuk memantau status gizi balita, yang langsung mendapat sambutan hangat dan tawaran pendampingan riset dari narasumber.
Sebagai penutup, STIKES Buleleng mengumumkan bahwa seminar nasional semacam ini akan diadakan secara rutin setiap tahun dengan tema yang berbeda, serta membuka peluang bagi peserta dari luar Pulau Bali untuk hadir secara daring maupun luring.

Para peserta sangat mengapresiasi keberanian STIKES Buleleng dalam mendatangkan pakar dari Universitas Indonesia, karena hal ini menjadi bukti bahwa kampus di daerah pun mampu menyelenggarakan forum ilmiah berskala nasional yang tidak kalah dengan kampus di kota besar.
Banyak peserta yang mengaku mendapatkan pengetahuan baru dan koneksi profesional yang berharga, terutama bagi mereka yang selama ini merasa terisolasi dari perkembangan pesat di bidang teknologi kesehatan.

“Seminar ini mengubah paradigma saya bahwa menjadi tenaga kesehatan di daerah bukanlah keterbatasan, melainkan peluang untuk berinovasi dengan kearifan lokal,” ungkap Putu Bella Pebri Jawini salah satu peserta, mewakili suara antusias dari puluhan peserta lainnya.
Dengan suksesnya acara ini, STIKES Buleleng berharap dapat terus berkontribusi secara nyata dalam memajukan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia timur, sekaligus menginspirasi institusi pendidikan tinggi lain untuk tidak ragu menghadirkan pakar dari mana pun demi kemajuan bersama.
KUI_humas