PRODI S1 FARMASI DAN PROFESI APOTEKER STIKES BULELENG GELAR PELATIHAN PENGUJI OSCE APOTEKER

Program Studi S1 Farmasi dan Profesi Apoteker STIKES Buleleng baru saja menyelenggarakan pelatihan intensif bagi calon penguji OSCE (Objective Structured Clinical Examination) apoteker yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas uji kompetensi profesi apoteker di Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari di Laboratorium OSCE Mini Hospital Kampus 1 STIKES Buleleng tersebut diikuti oleh puluhan dosen, praktisi apoteker klinis, dan tenaga kesehatan yang memiliki pengalaman di bidang pelayanan kefarmasian rumah sakit maupun komunitas.

Pelatihan ini menjadi sangat krusial mengingat OSCE merupakan metode standar emas dalam menilai kompetensi klinis apoteker, mulai dari kemampuan komunikasi dengan pasien, pengkajian resep, hingga konseling obat yang tepat dan aman.

Para peserta diberikan materi mendalam mengenai penyusunan stasiun uji, kriteria penilaian yang objektif, serta simulasi langsung menjadi penguji dengan skenario kasus nyata yang sering ditemui di apotek dan rumah sakit. Dengan adanya pelatihan seperti ini, diharapkan para penguji OSCE memiliki pemahaman yang seragam dan mampu meminimalisir bias penilaian sehingga lulusan apoteker benar-benar siap terjun ke masyarakat.

Lebih lanjut, Ketua Program Studi Profesi Apoteker, Dr.  apt. Iyan Hardiana, S.Farm., M.Farm., menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan respons terhadap peningkatan jumlah mahasiswa profesi apoteker yang harus menjalani uji kompetensi berbasis OSCE setiap tahunnya.

Menurutnya, tanpa penguji yang terstandar dan terlatih, hasil ujian bisa saja tidak mencerminkan kemampuan sebenarnya dari calon apoteker, yang pada akhirnya berisiko terhadap keselamatan pasien di fasilitas kesehatan. Ia menambahkan bahwa kurikulum pelatihan ini disusun berdasarkan panduan terbaru dari Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI) serta mengadopsi praktik terbaik dari negara-negara maju seperti Australia dan Inggris.

Seluruh peserta juga dibekali dengan modul penilaian berbasis kompetensi yang mencakup aspek etika profesi, keselamatan pasien, serta pengambilan keputusan klinis dalam situasi darurat farmasi. Dengan terselenggaranya pelatihan ini, Prodi S1 Farmasi dan Profesi Apoteker berkomitmen untuk terus menjadi pusat unggulan dalam pengembangan metode uji kompetensi yang modern dan berkeadilan.

Salah satu peserta pelatihan, mengungkapkan bahwa pengalamannya selama dua hari mengikuti kegiatan ini sangat membuka wawasan tentang bagaimana menjadi penguji yang objektif dan konsisten.

Ia mengaku selama ini sering menilai mahasiswa secara subjektif berdasarkan intuisi semata, tetapi kini ia memahami pentingnya menggunakan checklist terstruktur dan umpan balik yang konstruktif bagi peserta ujian. Selain itu, ia juga belajar bagaimana membuat skenario OSCE yang menantang namun realistis, misalnya kasus interaksi obat pada pasien geriatri dengan polifarmasi atau penanganan keluhan efek samping antibiotik pada anak.

Dengan keterampilan baru ini, ia optimistis dapat berkontribusi lebih baik dalam menghasilkan apoteker yang kompeten dan humanis. Tidak hanya itu, ia juga berharap pelatihan serupa dapat diadakan secara rutin setiap tahun dan bahkan diperluas ke wilayah timur Indonesia yang masih kekurangan tenaga penguji OSCE bersertifikat.

Pelatihan ini juga menghadirkan narasumber nasional yang merupakan anggota tim penyusun soal uji kompetensi apoteker Indonesia bapak Dr. apt. Faizal Hermanto, M.Si dan ibu apt. Anna Wahyuni Widayanti, MPH, Ph.D, yang memaparkan berbagai tantangan dalam pelaksanaan OSCE serta Penyelia Pusat  Dr. apt. I Gusti Ngurah Jemmy Anton Prasetia, S.Farm., M.Si.

Ia menyoroti bahwa penggunaan rekam medis elektronik dan telefarmasi kini mulai dimasukkan ke dalam stasiun uji, sehingga penguji harus paham bagaimana menilai kemampuan mahasiswa dalam mengoperasikan teknologi sekaligus tetap menjaga hubungan terapeutik dengan pasien.

Para peserta pun diajak untuk melakukan role-play dengan mahasiswa sukarelawan yang telah dilatih khusus sebagai pasien standar, sebuah metode yang efektif untuk menguji konsistensi penilaian antar penguji. Hasil dari simulasi tersebut kemudian dianalisis bersama untuk mengidentifikasi celah perbedaan penilaian dan mencari solusi bersama demi terciptanya standar yang sama.

Pada akhir sesi, semua peserta dinyatakan lulus dan mendapatkan sertifikat sebagai penguji OSCE terlisensi yang diakui secara nasional oleh Panitia Nasional Uji Kompetensi Nasional Peserta Didik Profesi Apoteker (Ukomnas PDPA). Sebagai penutup, Ketua STIKES Buleleng, Dr. Ns. I Made Sundayana, S.Kep., MSi., M.Kes., menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia dan peserta yang telah berdedikasi penuh dalam pelatihan ini demi kemajuan mutu pendidikan farmasi di tanah air.

Beliau menegaskan bahwa keberhasilan seorang apoteker tidak hanya diukur dari hafalan teori obat, tetapi lebih pada kemampuan praktis dalam menyelamatkan nyawa pasien melalui pelayanan kefarmasian yang profesional dan penuh empati.

Oleh karena itu, Prodi akan mengalokasikan anggaran khusus setiap tahunnya untuk mengadakan pelatihan penguji dan juga kegiatan peningkatan mutu lainnya seperti workshop penyusunan soal OSCE berbasis kasus lintas disiplin.

Dengan dukungan semua pihak, termasuk rumah sakit pendidikan, asosiasi apoteker, serta lembaga akreditasi, Prodi S1 Farmasi dan Profesi Apoteker optimis dapat melahirkan ribuan apoteker tangguh yang siap menghadapi tantangan kesehatan global di masa depan.

KUI_humas

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
Scroll to Top