
Dalam sebuah langkah strategis dan determinatif untuk menjawab tantangan global di bidang farmasi serta meningkatkan kualitas pendidikan kesehatan di Indonesia bagian timur, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Buleleng telah menerima kunjungan yang sangat penting dan bersifat evaluatif dari Tim Pendampingan Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI) di tahun 2025.
Kunjungan yang berlangsung secara intensif dan penuh dengan diskusi produktif ini memiliki tujuan utama, yakni melakukan asesmen menyeluruh dan pemberian rekomendasi konstruktif terhadap kesiapan serta kelayakan fasilitas Objective Structured Clinical Examination (OSCE) dan Computer-Based Test (CBT) Center yang merupakan aset vital dan prasyarat mutlak bagi penyelenggaraan Program Studi Profesi Apoteker yang rencananya akan segera dibuka pada tahun akademik mendatang.
Visitasi yang dilaksanakan dengan penuh antusiasme dan semangat kolaboratif ini tidak hanya sekadar memeriksa infrastruktur fisik semata, melainkan juga merupakan sebuah proses validasi terhadap keseriusan institusi dalam menerapkan standar nasional pendidikan tinggi farmasi yang telah ditetapkan secara ketat dan berorientasi pada outcome yang bermutu tinggi.
Keberhasilan dalam proses visitasi ini akan menjadi penentu utama dan babak baru yang bersejarah bagi STIKES Buleleng untuk mencetak para apoteker yang tidak hanya kompeten secara teknis dan kognitif tetapi juga memiliki integritas kepribadian yang unggul serta siap bersaing di kancah nasional maupun international.
Secara lebih luas, kehadiran Prodi Profesi Apoteker di STIKES Buleleng diproyeksikan akan menjadi engine of growth yang mampu mendongkrak kualitas layanan kefarmasian di seluruh wilayah Bali Utara dan sekitarnya, sehingga pada akhirnya akan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan kemandirian bangsa di bidang farmasi.
Kedatangan tim yang terdiri dari para pakar dan praktisi pendidikan farmasi ternama di Indonesia tersebut disambut dengan sangat hangat dan penuh rasa hormat oleh segenap pimpinan institusi, para dosen, serta staf administrasi yang dengan sigap telah mempersiapkan segala kebutuhan yang diperlukan untuk kelancaran seluruh rangkaian agenda visitasi.
Dr. Ns. I Made Sundayanam, S.Kep., MSi., M.Kes., selaku Ketua STIKES Buleleng, dalam sambutan pembukanya yang disampaikan di Pendopo Meeting Room dengan dihadiri oleh seluruh jajaran unsur pimpinan, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaan yang mendalam atas dipilihnya institusi yang dipimpinnya untuk mendapatkan pendampingan yang sangat berharga ini.

“Visitasi dari Tim APTFI hari ini bukanlah sebuah tujuan akhir, melainkan sebuah batu loncatan yang sangat berharga dan momen pembuktian komitmen kami yang tak tergoyahkan untuk terus berinovasi dan meningkatkan mutu penyelenggaraan tridharma perguruan tinggi, khususnya dalam menyiapkan sarjana farmasi menjadi apoteker yang tangguh dan berdaya saing global,” ujarnya dengan penuh keyakinan dan semangat yang menggebu-gebu.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa investasi yang telah dikucurkan untuk pengadaan dan penyempurnaan fasilitas OSCE dan CBT Center merupakan bentuk nyata dari keseriusan kampus dalam menciptakan lingkungan belajar dan evaluasi yang modern, adil, transparan, dan sesuai dengan perkembangan teknologi terkini di dunia kesehatan.
Harapannya, melalui proses standardisasi yang ketat ini, lulusan Profesi Apoteker STIKES Buleleng nantinya akan dapat diakui kompetensinya secara luas dan mampu memberikan dampak positif yang langsung terasa bagi masyarakat, khususnya dalam hal keamanan, kemanjuran, dan keterjangkauan penggunaan obat.
Selanjutnya, prosesi visitasi dipimpin langsung oleh Ketua Tim Pendampingan APTFI, Prof. Dr. apt. Satibi Ali Kusnadi, M.Si. berangotakan Prof. Dr. apt. T.N. Saifullah Sulaiman, M.Si. dan I Gusti Ngurah Jeremmy Anton Prasetia, M.Si., seorang figur yang sangat dihormati dan memiliki rekam jejak yang gemilang dalam pengembangan kurikulum dan assessment pendidikan farmasi di Indonesia.
Dalam pemaparannya, Prof. Satibi dengan sangat gamblang dan detail menjelaskan tentang filosofi, kriteria, dan indikator penilaian yang sangat komprehensif yang akan digunakan oleh timnya untuk mengevaluasi setiap aspek dari kedua fasilitas tersebut, mulai dari kesesuaian tata ruang, kecukupan jumlah dan spesifikasi peralatan, kelengkapan props dan simulasi pasien standar, hingga keandalan sistem jaringan komputer dan software yang digunakan untuk ujian CBT.
“OSCE bukan sekadar ujian praktik biasa; ini adalah sebuah metode assessment yang sangat powerful dan terstruktur untuk mengukur kompetensi klinis calon apoteker dalam menghadapi berbagai skenario nyata di dunia kerja, mulai dari komunikasi terapeutik dengan pasien, identifikasi masalah terkait obat, hingga penyiapan sediaan farmasi yang steril dan akurat, sehingga setiap detail dalam station OSCE harus dirancang dengan sangat cermat dan realistis,” tegasnya dengan suara yang tegas namun penuh dengan kewibawaan akademik.
Sementara untuk CBT Center, ia menekankan pentingnya stabilitas listrik yang didukung oleh UPS dan generator, kecepatan dan keamanan server, serta protokol yang ketat untuk mencegah terjadinya kecurangan selama ujian berlangsung, karena hal-hal teknis tersebut sangat menentukan validitas dan reliabilitas dari hasil ujian yang dilakukan.
Timnya, yang terdiri dari tiga orang anggota lainnya yang juga merupakan dosen-dosen senior dari berbagai perguruan tinggi farmasi terkemuka, akan bekerja dengan sangat teliti, objektif, dan independen berdasarkan panduan standar yang telah ditetapkan oleh APTFI dan sesuai dengan arahan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Rangkaian kegiatan inti dari visitasi kemudian dilanjutkan dengan tour keliling kampus untuk melakukan observasi secara langsung dan hands-on terhadap setiap fasilitas yang menjadi objek penilaian, dimulai dari kunjungan ke ruang CBT Center yang terletak di lantai tiga gedung utama dan telah dilengkapi dengan puluhan unit komputer spesifikasi tinggi yang terhubung dalam sebuah jaringan lokal yang terisolasi dengan baik.
Tim APTFI dengan cermat memeriksa setiap workstation, menguji coba software ujian, memeriksa kondisi ruang yang mencakup tata cahaya, sirkulasi udara, dan tingkat kebisingan, serta mengkroscek ketersediaan perangkat pendukung seperti CCTV pengawas, jam digital, dan alat pemadam kebakaran yang semuanya harus memenuhi standar keamanan dan kenyamanan yang sangat ketat.
Tidak ketinggalan, tim juga melakukan wawancara mendalam dengan para operator dan teknisi IT yang bertanggung jawab penuh atas maintenance harian dan troubleshooting jika terjadi gangguan teknis yang tidak terduga selama pelaksanaan ujian berlangsung, karena kelancaran proses ujian sangat bergantung pada kompetensi dari sumber daya manusia yang mengoperasikannya.
Para teknisi tersebut dituntut untuk dapat mendemonstrasikan kemampuan mereka dalam mengatur server, mem-backup data ujian, dan menyiapkan sistem cadangan jika suatu saat terjadi blackout atau masalah jaringan yang bisa saja terjadi secara tiba-tiba dan mengancam kelangsungan ujian yang sedang berjalan.
Setelah puas mengevaluasi CBT Center, perhatian tim kemudian dialihkan ke lokasi yang tidak kalah pentingnya, yaitu laboratorium OSCE yang terletak di sayap timur kampus dan dirancang khusus dengan konsep one-way flow dimana para peserta ujian akan bergerak dari satu station ke station berikutnya tanpa bisa kembali atau bertemu dengan peserta lain yang belum diuji.
Laboratorium ini terdiri dari sepuluh station aktif yang masing-masing telah didesain untuk mensimulasikan situasi praktek kefarmasian yang berbeda-beda, mulai dari station konseling obat di apotek komunitas, station peracikan sediaan steril di instalasi farmasi rumah sakit, station identifikasi obat dan bahan kimia di industri farmasi, hingga station manajemen farmasi komunitas di puskesmas.
Setiap station dilengkapi dengan peralatan dan bahan penunjang yang nyaris lengkap dan sesuai dengan standar, seperti lemari obat yang berisi berbagai macam dummy obat, alat peracik, manekin untuk simulasi injeksi, formulir resep dan konseling, serta perangkat audio-video untuk merekam dan mengamati interaksi antara calon apoteker dengan simulated patient yang diperankan oleh orang yang telah terlatih.
Tim APTFI menghabiskan waktu yang cukup lama di setiap station, memeriksa kelengkapan dan fungsionalitas setiap alat, membaca skenario ujian yang telah disiapkan, dan bahkan melakukan role-play singkat untuk menguji apakah skenario tersebut sudah cukup menantang dan mampu mengukur kompetensi yang diinginkan secara komprehensif dan adil bagi semua peserta.
Selain mengevaluasi aspek fisik dan teknis, tim pendampingan juga melakukan serangkaian Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan seluruh dosen pengampu yang akan bertugas sebagai examiner dalam proses OSCE nantinya, karena kualitas para penguji merupakan faktor penentu lain yang tidak kalah pentingnya dari kelengkapan fasilitas.
Dalam diskusi yang berlangsung sangat dinamis dan kaya akan pertukaran pikiran ini, tim APTFI memberikan banyak masukan berharga terkait teknik penyusunan kisi-kisi soal OSCE yang baik, pembuatan rubrik penilaian yang objektif dan terukur, pelatihan untuk menjadi simulated patient yang convincing, serta etika dalam memberikan skor dan umpan balik kepada peserta ujian.
“Sehebat apapun fasilitasnya, jika para examinernya tidak memiliki pemahaman yang sama dan mendalam tentang prinsip-prinsip assessment OSCE, maka hasil ujiannya bisa saja menjadi bias dan tidak mencerminkan kompetensi peserta yang sebenarnya,” ujar salah seorang anggota tim APTFI dalam sesi diskusi tersebut.
Ia menambahkan bahwa pelatihan berkala dan standardisasi para examiner adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi untuk memastikan bahwa setiap calon apoteker dinilai dengan standar yang sama persis, regardless dari siapa examiner yang menilainya dan pada hari apa ujian tersebut dilaksanakan.
Setelah melalui proses penilaian yang sangat panjang, detail, dan melelahkan yang berlangsung dari pagi hingga sore hari, tim visitasi akhirnya mengadakan sesi penutupan dimana mereka menyampaikan temuan-temuan awal (preliminary findings) mereka kepada pimpinan STIKES Buleleng dan seluruh panitia persiapan.
Prof. Dr. apt. Satibi Ali Kusnadi, M.Si., selaku ketua tim, menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi atas komitmen, kesiapan, dan kerja keras yang telah ditunjukkan oleh seluruh keluarga besar STIKES Buleleng dalam mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut visitasi ini, yang menurutnya telah mencapai kesesuaian yang cukup baik dan sangat memadai dilihat dari total keseluruhan standar yang dipersyaratkan.
“Kami melihat adanya dedikasi dan semangat yang luar biasa dari seluruh jajaran di STIKES Buleleng untuk menjadikan Prodi Profesi Apoteker ini sebagai program yang unggul dan berkualitas, dan hal ini tercermin dari investasi yang besar dan perhatian terhadap detail yang kami temui di fasilitas OSCE dan CBT Center Anda,” pujinya dengan disambut tepuk tangan meriah dari seluruh peserta yang hadir.
Meskipun demikian, ia juga memberikan beberapa catatan kritis dan rekomendasi perbaikan yang masih perlu diselesaikan dalam waktu dekat, terutama terkait dengan penyempurnaan dokumentasi Standard Operating Procedure (SOP) untuk setiap station OSCE, penambahan beberapa alat pelindung diri (APD) yang lebih spesifik untuk station steril, dan optimalisasi layout ruang tunggu peserta agar lebih nyaman dan tidak mengganggu konsentrasi mereka yang sedang diuji.
Semua masukan tersebut diterima dengan sangat terbuka dan rendah hati oleh pihak STIKES Buleleng, yang berjanji akan segera membentuk tim kerja khusus untuk menindaklanjuti setiap rekomendasi tersebut hingga tuntas sebelum proses pembukaan program studi dimulai.
Kunjungan Tim Pendampingan APTFI ini jelas merupakan sebuah milestone yang sangat signifikan dan momen yang menentukan bagi perjalanan sejarah STIKES Buleleng, karena keberhasilan dalam visitasi ini akan membuka pintu yang lebar bagi lahirnya apoteker-apoteker baru yang tidak hanya memiliki ijazah dan gelar profesional tetapi juga kompetensi klinis yang mumpuni dan siap untuk terjun ke dalam sistem kesehatan yang semakin kompleks.
Dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah Buleleng, DPRD, dinas kesehatan, hingga organisasi profesi Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Cabang Buleleng, juga menjadi faktor pendukung yang sangat kuat dan memberikan angin segar bagi percepatan realisasi program studi ini di kemudian hari.
Dengan terus berpegang pada prinsip continuous improvement dan tidak pernah berpuas diri dengan capaian yang telah diperoleh, STIKES Buleleng optimis dapat segera mendapatkan izin operasional dan menerima mahasiswa angkatan pertama Program Studi Profesi Apoteker dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, sehingga dapat turut serta aktif dalam memenuhi kebutuhan nasional akan tenaga apoteker yang masih sangat besar dan belum terpenuhi secara merata di seluruh pelosok tanah air.
Pada akhirnya, upaya standarisasi fasilitas OSCE dan CBT Center ini adalah sebuah bentuk tanggung jawab moral dan investasi jangka panjang untuk memastikan bahwa setiap obat yang sampai ke tangan pasien telah melalui proses yang dipantau oleh tenaga kesehatan yang kompeten, sehingga keamanan pasien (patient safety) dapat terjaga dengan lebih baik dan pada gilirannya akan meningkatkan trust masyarakat terhadap profesi apoteker dan sistem kesehatan Indonesia pada umumnya.
KUI_humas