Prodi Sarjana Farmasi STIKES Buleleng Gelar Asesmen Akhir PKL Tahun 2025 Menggunakan Sistem OSCE

Program Studi Sarjana Farmasi STIKES Buleleng telah sukses menyelenggarakan Asesmen Akhir Praktik Kerja Lapangan (PKL) Tahun 2025 dengan mengimplementasikan metode Objective Structured Clinical Examination (OSCE), sebuah sistem evaluasi berbasis kompetensi yang diakui secara global dalam pendidikan kesehatan. Kegiatan yang berlangsung selama 2 hari ini diikuti oleh kurang lebih 50 mahasiswa tingkat akhir yang telah menyelesaikan PKL di berbagai institusi kesehatan, termasuk rumah sakit dan apotek.

Dengan menerapkan OSCE, asesmen kali ini dirancang untuk mengukur kemampuan mahasiswa secara objektif melalui serangkaian stasiun ujian yang mensimulasikan situasi nyata di dunia kerja, mulai dari konseling pasien, analisis resep, manajemen obat, hingga penanganan kasus farmasi klinis. Sistem ini tidak hanya menilai pengetahuan teknis mahasiswa tetapi juga mengevaluasi keterampilan komunikasi, etika profesi, dan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi tantangan praktis di lapangan.

“OSCE dipilih karena metode ini mampu memberikan penilaian yang adil, terstruktur, dan komprehensif, sehingga kami yakin lulusan kami benar-benar siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” tegas Dr. apt. Iyan Hardiana, S.Farm., M.Farm., Ketua Prodi Sarjana Farmasi STIKES Buleleng, dalam konferensi pers pembukaan acara. 

Asesmen OSCE ini menghadirkan 9 stase ujian dan 1 stase istirahat, yang masing-masing dirancang untuk menguji kompetensi spesifik, seperti stase penyimpanan, stase PIO, stase penggadaan, stase DRP, stase Konseling, stase Swamedikasi, stase PTO, stase Compounding, dan stase Pelayanan Resep.

  Salah satu stasiun yang menjadi sorotan adalah simulasi “Penyuluhan Obat kepada Pasien Geriatri”, di mana mahasiswa harus menjelaskan penggunaan obat antidiabetes dengan bahasa yang mudah dipahami sambil memerhatikan faktor risiko interaksi obat.

“Ini adalah tantangan nyata yang sering dihadapi farmasis di apotek atau rumah sakit, dan melalui OSCE, kami bisa menilai kesiapan mahasiswa menghadapi situasi tersebut,” jelas salah seorang preseptor penguji yang juga Kepala Instalasi Farmasi RS di Buleleng. Selain itu, pada stase pengadaan yang menguji kemampuan mahasiswa dalam mengambil keputusan cepat dan tepat saat menghadapi keterbatasan pasokan obat. 

Antusiasme peserta terlihat dari persiapan matang mereka dalam menghadapi setiap stasiun, termasuk latihan intensif selama sebulan sebelumnya bersama pembimbing dan preseptor. Eka, salah seorang peserta, mengungkapkan bahwa simulasi OSCE memberikan pengalaman nyata yang jauh berbeda dengan ujian teori di kelas. “Kami harus berpikir cepat, berkomunikasi efektif, dan menunjukkan empati kepada pasien simulasi, yang semuanya adalah keterampilan krusial untuk menjadi farmasi profesional,” katanya setelah menyelesaikan stasiun “Penanganan Efek Samping Obat Kemoterapi”.

Hasil asesmen menunjukkan bahwa 100% mahasiswa berhasil mencapai tingkat kompetensi “Sangat Siap” dalam semua stasiun OSCE, sebuah pencapaian yang menggembirakan bagi civitas akademika STIKES Buleleng. “Angka ini membuktikan bahwa integrasi metode OSCE dalam kurikulum PKL kami efektif dalam menghasilkan lulusan yang kompeten dan mepersiapkan mahasiswa dalam ikut serta pada OSCE Nasional Sumatif di tingkat Pendidikan Profesi Apoteker,” papar Dr. Iyan dalam pemaparan hasil evaluasi.

KUI_humas

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
Scroll to Top