PERDALAM NILAI-NILAI KEBANGSAAN, MAHASISWA STIKES BULELENG JADI AGEN PEMERSATU BANGSA

Dalam upaya membentengi generasi muda dari ancaman disintegrasi bangsa dan derasnya arus informasi global yang tidak terfilter, mahasiswa STIKES Buleleng menunjukkan komitmen luar biasa dengan mengikuti secara aktif kegiatan pendalaman nilai-nilai kebangsaan yang diselenggarakan oleh Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) bersama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Buleleng, sebuah langkah strategis untuk menciptakan agen-agen pemersatu di lingkungan kampus kesehatan.

Kegiatan yang mengusung tema besar “Tanamkan Nilai Kebangsaan Bagi Generasi Muda” ini berlangsung meriah di Aula Kampus STIKES Buleleng dan diikuti oleh lebih dari 50 mahasiswa dari berbagai Program Studi Keperawatan, Kebidanan, dan Farmasi yang sangat antusias untuk memperkuat rasa nasionalisme di tengah keberagaman budaya Bali pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Para mahasiswa tidak hanya duduk pasif mendengarkan ceramah, tetapi juga terlibat dalam diskusi interaktif, simulasi kepemimpinan kebangsaan, serta lokakarya toleransi yang menuntut mereka untuk berpikir kritis tentang peran strategis tenaga kesehatan sebagai perekat sosial di masyarakat majemuk.

Inisiatif kolaboratif antara institusi pendidikan dan pemerintah daerah ini lahir dari keprihatinan bersama terhadap semakin lunturnya pemahaman ideologi Pancasila di kalangan anak muda, terutama akibat gempuran konten provokatif dan hoaks di platform media sosial yang dapat memecah belah persatuan bangsa.

Kepala Bidang Pengembangan Nilai-Nilai Kebangsaan, Dra. Ketut Suseni Indrawati, M.A.P., dalam sambutannya menegaskan bahwa pemilihan mahasiswa STIKES Buleleng sebagai sasaran utama sosialisasi bukanlah tanpa alasan, karena profesi di bidang kesehatan kelak akan berhadapan langsung dengan pasien dari berbagai latar belakang suku, agama, ras, dan golongan sehingga penguasaan nilai-nilai kebangsaan menjadi kompetensi wajib yang tidak bisa ditawar lagi .

“Kami ingin para calon tenaga kesehatan ini tidak hanya terampil secara teknis medis, tetapi juga memiliki hati yang besar untuk merangkul semua perbedaan yang ada, karena seorang perawat atau bidan adalah duta persatuan di ruang pelayanan kesehatan,” ujar Ketut Suseni di hadapan para peserta yang memenuhi ruangan dengan semangat kebangsaan yang membara.

Beliau menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program berkelanjutan Pemerintah Kabupaten Buleleng dalam memperkuat wawasan kebangsaan bagi generasi emas menuju Indonesia Maju 2045, mengingat ancaman perubahan ideologi politik dan penyalahgunaan narkoba masih menjadi tantangan serius yang harus diantisipasi sejak dini.

Sementara itu, Ketua FPK Kabupaten Buleleng, I Ketut Drestika, S.H., menekankan bahwa Forum Pembauran Kebangsaan hadir sebagai wadah strategis untuk mempererat harmoni antar kelompok masyarakat yang berbeda etnis dan budaya, dan mahasiswa STIKES Buleleng diharapkan mampu menjadi motor penggerak pembauran ini di lingkungan kampus dan masyarakat sekitar.

Materi utama yang disampaikan dalam sosialisasi ini menghadirkan narasumber berkualitas dari FPK dan Kesbangpol, termasuk Dra. Ketut Suseni Indrawati, M.A.P. selaku Kepala Bidang Pengembangan Nilai-Nilai Kebangsaan, yang secara rinci memaparkan tentang pentingnya memahami dan mengamalkan empat pilar wawasan kebangsaan yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari di era digital yang penuh disrupsi ini.

Dalam paparannya yang inspiratif selama dua jam penuh, Ketut Suseni menjelaskan bahwa generasi muda saat ini sedang digempur oleh nilai-nilai materialistik, hedonisme, individualisme, dan konsumtif melalui berbagai platform digital, sehingga tanpa pondasi kebangsaan yang kokoh, mereka akan mudah kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia yang beradab dan bermartabat.

Beliau juga mengingatkan bahwa penjajahan saat ini tidak lagi bersifat fisik seperti di masa lampau, melainkan telah bergeser menjadi penjajahan intelektual dan moralitas yang menyusup melalui konten-konten menyesatkan serta penyebarluasan narkoba yang dapat meruntuhkan masa depan generasi penerus bangsa.

Oleh karena itu, lanjutnya, pendidikan wawasan kebangsaan harus dibuat sistematis, kontekstual, dan menyenangkan bagi mahasiswa agar tidak terasa membosankan dan justru menjadi kebutuhan internal bagi setiap individu yang sadar akan tanggung jawabnya sebagai warga negara.

Materi kedua yang tak kalah menarik disampaikan oleh perwakilan FPK yakni Bapak Indrayasa yang membahas tentang peran mahasiswa kesehatan dalam menjaga persatuan di lingkungan pelayanan medis, sebuah topik yang jarang tersentuh dalam kurikulum kesehatan konvensional tetapi sangat krusial untuk dipraktikkan di lapangan.

Para peserta diajak untuk menganalisis studi kasus nyata seperti bagaimana menangani pasien dari suku tertentu yang memiliki pantangan medis berdasarkan kepercayaan lokal, bagaimana berkomunikasi dengan pasien korban konflik antar kelompok masyarakat, serta bagaimana menjadi mediator ketika terjadi kesalahpahaman antar pasien yang berbeda latar belakang di ruang rawat inap.

Mahasiswa STIKES Buleleng, yang sebagian besar berasal dari berbagai daerah di Bali dan luar Bali, mengaku mendapatkan pencerahan baru bahwa menjadi tenaga kesehatan profesional tidak cukup hanya dengan menguasai ilmu anatomi atau farmakologi, tetapi juga membutuhkan kecerdasan budaya dan kecerdasan sosial yang tinggi.

Salah seorang peserta, Komang Sindy Melani, mahasiswi semester empat Program Studi Keperawatan, mengungkapkan bahwa ia selama ini sering merasa canggung saat harus melayani pasien dari luar Bali yang memiliki kebiasaan atau bahasa yang sangat berbeda, tetapi setelah mengikuti sosialisasi ini ia merasa lebih percaya diri untuk menjadi agen pemersatu di tempat praktiknya nanti.

Puncak dari rangkaian kegiatan ini adalah peluncuran komitmen bersama yang disebut sebagai “Ikrar Mahasiswa Kesehatan untuk Persatuan Indonesia”, di mana seluruh peserta secara serempak membacakan janji untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap tindakan pelayanan kesehatan dan menjadi pelopor toleransi di lingkungan kampus serta masyarakat sekitar.

Ikrar yang dipimpin langsung oleh perwakilan Kesbangpol ini disambut dengan tepuk tangan meriah dan yel-yel kebangsaan yang menggema di seluruh sudut kampus, menandakan bahwa semangat persatuan benar-benar telah menyala di hati para calon tenaga kesehatan tersebut.

Ketua Yayasan, Ns. Made Yos Kresnayana, S.Kep., M.Kep. dalam sambutan penutupannya menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada FPK dan Kesbangpol Kabupaten Buleleng yang telah berkenan berbagi ilmu dan pengalaman berharga kepada mahasiswa binaannya.

“Kami tidak akan berhenti sampai di sini, karena nilai-nilai kebangsaan harus terus dipupuk dan diamalkan, bukan hanya dihapal untuk ujian atau sekadar formalitas belaka,” tegas Made Yos dengan nada penuh optimisme dan tekad yang kuat. Ia juga mengumumkan bahwa STIKES Buleleng akan membentuk “Duta Kesehatan Pemersatu Bangsa” yang bertugas menyebarluaskan pesan-pesan toleransi dan kebangsaan ke berbagai desa binaan di Kabupaten Buleleng, sebagai tindak lanjut nyata dari kegiatan sosialisasi yang baru saja berlangsung.

Dengan berakhirnya kegiatan pendalaman nilai-nilai kebangsaan ini, para mahasiswa STIKES Buleleng pulang dengan membawa semangat baru untuk terus mengamalkan persatuan dalam setiap langkah pengabdian mereka sebagai calon tenaga kesehatan profesional yang tidak hanya menyembuhkan penyakit fisik tetapi juga merawat kerukunan sosial bangsa Indonesia.

KUI_humas

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian
Scroll to Top