PERDANA! PRAKTIK KLINIK PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER STIKES BULELENG

Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Buleleng resmi memulai babak baru dalam perjalanan pendidikannya dengan menggelar kegiatan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Industri Farmasi perdana bagi mahasiswa angkatan pertamanya, sebuah momen bersejarah yang dinanti-nantikan tidak hanya oleh civitas akademika tetapi juga oleh masyarakat Bali Utara yang selama ini menantikan kehadiran tenaga farmasi profesional lulusan daerah sendiri.

PKPA yang berlangsung selama beberapa pekan ini akan membawa para calon apoteker untuk terjun langsung ke berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, seperti Lembaga Farmasi AD (LAFIAD), sejumlah rumah sakit dan puskesmas terpilih, apotek mitra, distributor farmasi serta industri farmasi besar dan menengah yang ada di wilayah Bali dan Nasional, dengan bimbingan penuh dari para apoteker pendamping yang telah berpengalaman di bidangnya.

Kegiatan perdana yang penuh makna ini merupakan implementasi nyata dari kurikulum berbasis kompetensi yang telah dirancang secara matang oleh prodi, di mana mahasiswa tidak hanya dituntut untuk menguasai teori kefarmasian di ruang kelas, tetapi juga harus mampu mengaplikasikannya secara langsung dalam pekerjaan kefarmasian yang berorientasi pada keselamatan pasien dan kualitas hidup masyarakat.

Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker STIKES Buleleng, Dr. apt. Iyan Hardiana, S.Farm., M.Farm., dalam sambutannya sebelum melepas para mahasiswa ke lokasi praktik menyampaikan bahwa PKPA perdana ini adalah puncak dari perjuangan panjang yang telah dimulai sejak institusi menerima Surat Keputusan (SK) penyelenggaraan program studi dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VIII beberapa waktu lalu, sebuah pencapaian yang menjadikan STIKES Buleleng sebagai satu-satunya perguruan tinggi swasta di Bali yang menyelenggarakan program profesi apoteker.

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa PKPA ini dirancang dengan standar yang sangat ketat dan komprehensif, mencakup empat area utama kompetensi apoteker yaitu pengelolaan sediaan farmasi dan alat kesehatan, pelayanan farmasi klinis, pengembangan riset dan teknologi kefarmasian, serta penguatan aspek managerial dan kewirausahaan yang relevan dengan kebutuhan industri farmasi masa kini .

Pihaknya juga telah melakukan serangkaian persiapan yang matang, termasuk “safari kerja sama” ke berbagai institusi kesehatan dan industri farmasi di Jakarta dan Jawa Barat untuk memastikan bahwa wahana praktik yang akan dimasuki mahasiswa benar-benar memenuhi standar mutu dan mampu memberikan pengalaman belajar yang optimal bagi para calon apoteker.

Pelaksanaan PKPA perdana ini mendapat sambutan hangat dan antusiasme yang luar biasa dari para mahasiswa, yang terlihat dari raut wajah penuh semangat dan keseriusan mereka saat mengikuti pembekalan teknis dan pelepasan yang digelar di Aula Kampus 2 STIKES Buleleng, di mana mereka akan menjalani rotasi di berbagai wahana mulai dari Apotek, Puskesmas, PBF, Rumah Sakit dan Industri Farmasi.

Salah seorang mahasiswa peserta PKPA, Gede Darma Satyawan, mengungkapkan perasaan bangga dan haru karena diberi kesempatan menjadi bagian dari sejarah pertama PKPA apoteker di STIKES Buleleng, seraya berjanji akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk belajar dari para apoteker senior di lapangan.

Ia juga menyadari bahwa tanggung jawab yang diemban sebagai calon apoteker tidaklah ringan, mengingat mereka akan berhadapan langsung dengan pasien yang membutuhkan pelayanan kefarmasian yang tepat, cepat, dan aman, sehingga diperlukan kesiapan mental, pengetahuan yang mumpuni, serta keterampilan komunikasi yang efektif untuk dapat memberikan konseling obat yang berkualitas.

LAFIAD yang menjadi salah satu lokasi utama PKPA, menyambut positif kehadiran mahasiswa PSPPA STIKES Buleleng dan menyatakan kesiapan penuh untuk membimbing serta memfasilitasi proses pembelajaran para calon apoteker muda ini, karena mereka percaya bahwa investasi pada sumber daya manusia kesehatan hari ini adalah investasi untuk masa depan pelayanan kesehatan yang lebih baik di wilayah Buleleng.

Direktur LAFIAD, dalam sambutan terpisah, menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan para preceptor atau pembimbing klinik yang kompeten dan berpengalaman, yang akan mendampingi mahasiswa secara intensif selama menjalani rotasi di berbagai instalasi farmasi, sehingga mahasiswa tidak hanya belajar tentang aspek teknis peracikan dan dispensing obat, tetapi juga tentang etika profesi, komunikasi terapeutik, dan pengambilan keputusan klinis dalam situasi nyata.

Kolaborasi strategis antara STIKES Buleleng dengan LAFIAD ini diharapkan dapat menjadi model kemitraan yang ideal antara institusi pendidikan tinggi dan fasilitas pelayanan kesehatan, di mana kedua belah pihak sama-sama diuntungkan; mahasiswa mendapatkan pengalaman berharga, sementara rumah sakit mendapatkan tambahan tenaga terdidik yang dapat membantu optimalisasi pelayanan kefarmasian kepada masyarakat.

Di sisi lain, PKPA yang juga dilaksanakan di industri seperti SR12 dan PT. Karya Pak Oles Tokcer serta wahana lainnya memberikan dimensi pembelajaran yang berbeda bagi mahasiswa, di mana mereka akan belajar tentang Cara Pembuatan Obat yang Baik di Industri Farmasi.

Pengalaman di wahana lainnya seperti di Apotek mitra juga sangat penting untuk membentuk apoteker yang tidak hanya ahli di dalam distribusi dan produksi namun pada pelayanan kefarmasian juga yang tidak bisa di pisah dalam pekerjaan kefarmasian.

Para pemilik apotek mitra menyambut baik program ini dan berharap kehadiran mahasiswa praktik dapat membawa semangat baru serta wawasan kekinian tentang perkembangan ilmu farmasi yang mungkin belum mereka dapatkan sebelumnya, sehingga tercipta proses transfer pengetahuan dua arah yang saling menguntungkan. Suasana di apotek-apotek tersebut pun menjadi lebih hidup dengan kehadiran mahasiswa yang tekun mengamati proses pelayanan, bertanya tentang berbagai jenis obat, serta berlatih memberikan informasi obat kepada pasien di bawah pengawasan apoteker pendamping.

Ketua STIKES Buleleng, Dr. Ns. I Made Sundayana, S.Kep., MSi., M.Kes., dalam arahannya kepada para mahasiswa yang akan memulai PKPA menekankan pentingnya menjaga nama baik almamater, menjunjung tinggi etika profesi, dan menjadikan setiap momen praktik sebagai kesempatan emas untuk belajar dan mengasah kompetensi, karena apa yang mereka peroleh selama PKPA akan menjadi bekal utama ketika nantinya benar-benar terjun ke dunia kerja sebagai apoteker profesional.

Beliau juga mengingatkan bahwa kehadiran Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker di STIKES Buleleng adalah jawaban atas kebutuhan masyarakat Bali Utara akan tenaga apoteker yang selama ini masih sangat terbatas, sehingga para mahasiswa memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk benar-benar mempersiapkan diri menjadi apoteker yang kompeten, berintegritas, dan memiliki jiwa pengabdian yang tinggi kepada masyarakat.

Pihak kampus, lanjutnya, akan terus memantau dan mengevaluasi jalannya PKPA ini, serta siap memberikan dukungan penuh baik secara akademik maupun administratif agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar dan mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

PKPA perdana Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker STIKES Buleleng ini tidak hanya menjadi tonggak sejarah penting bagi institusi, tetapi juga membawa dampak signifikan bagi ekosistem pendidikan dan layanan kesehatan di Bali Utara secara keseluruhan, karena mulai saat ini, putra-putri daerah tidak perlu lagi merantau jauh ke Pulau Jawa atau Denpasar hanya untuk menempuh pendidikan profesi apoteker.

Dengan hadirnya PSPPA di STIKES Buleleng, biaya pendidikan yang relatif lebih terjangkau dan akses yang lebih dekat dengan rumah diharapkan dapat mendorong lebih banyak lulusan sarjana farmasi untuk melanjutkan ke jenjang profesi, sehingga dalam beberapa tahun ke depan, rasio apoteker per jumlah penduduk di Kabupaten Buleleng dan sekitarnya dapat meningkat secara signifikan.

Hal ini tentu akan berdampak positif pada peningkatan kualitas pelayanan kefarmasian di berbagai fasilitas kesehatan, mulai dari puskesmas di pedesaan hingga rumah sakit rujukan di perkotaan, yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara keseluruhan, terutama dalam hal penggunaan obat yang aman, efektif, dan rasional.

Dari perspektif kurikulum dan metode pembelajaran, PKPA ini dirancang dengan mengadopsi pendekatan student-centered learning dan experiential learning, di mana mahasiswa didorong untuk aktif mencari tahu, menganalisis masalah, dan mengambil keputusan klinis berdasarkan evidence-based practice yang mereka pelajari di kampus.

Setiap mahasiswa akan dibekali dengan logbook atau catatan harian praktik yang harus diisi dan didiskusikan secara rutin dengan pembimbing, guna memastikan bahwa semua kompetensi yang diharapkan benar-benar tercapai selama masa rotasi. Selain itu, mereka juga akan diminta untuk menyusun laporan kasus dan presentasi ilmiah berdasarkan pengalaman yang mereka peroleh selama praktik, yang akan menjadi bahan evaluasi dan diskusi bersama dosen dan rekan-rekan sekelompok, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih kaya dan mendalam.

Evaluasi tidak hanya dilakukan oleh pembimbing dari institusi mitra, tetapi juga oleh dosen pengampu mata kuliah yang secara berkala akan melakukan kunjungan supervisi ke lokasi praktik untuk memantau perkembangan dan kendala yang dihadapi mahasiswa.

Para pembimbing klinik dari LAFIAD, SR12, PT. Karya Pak Oles Tokcer dan Pihak Industri lain serta apotek, Puskesmas dan Rumah Sakit mitra yang telah mendapatkan pembekalan dari prodi menyatakan komitmennya untuk memberikan bimbingan terbaik, karena mereka menyadari bahwa kualitas lulusan apoteker STIKES Buleleng kelak akan menjadi cerminan dari kualitas bimbingan yang mereka berikan hari ini.

Mereka berharap agar para mahasiswa tidak ragu untuk bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan ide-ide segar yang mungkin dapat memberikan perspektif baru dalam pelayanan kefarmasian di tempat mereka praktik. Suasana kebersamaan dan semangat kolaborasi antara akademisi dan praktisi ini menjadi modal sosial yang sangat berharga dalam membangun budaya mutu dan profesionalisme di bidang kefarmasian di wilayah Bali Utara.

Diharapkan, hubungan kemitraan yang terjalin ini tidak akan berhenti pada selesainya masa PKPA, tetapi dapat terus berlanjut dalam bentuk kerja sama penelitian, pengabdian masyarakat, atau pengembangan sumber daya manusia di masa mendatang.

PKPA perdana dari PSPPA STIKES Buleleng ini juga menjadi perhatian dari Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, yang melihat kehadiran mahasiswa apoteker di fasilitas pelayanan kesehatan sebagai bagian dari upaya penguatan sistem kesehatan daerah, terutama dalam hal penyediaan tenaga farmasi yang selama ini masih menjadi salah satu profesi kesehatan yang langka di daerah terpencil.

Pemerintah daerah berharap bahwa setelah menyelesaikan pendidikan, para lulusan apoteker STIKES Buleleng dapat tersebar tidak hanya di perkotaan, tetapi juga bersedia mengabdi di puskesmas-puskesmas di wilayah kecamatan yang jauh dari pusat kota, di mana kebutuhan akan apoteker sangat mendesak.

Untuk mendukung hal tersebut, Dinas Kesehatan menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi penempatan lulusan serta membuka peluang kerja sama dalam program-program kesehatan berbasis masyarakat yang melibatkan apoteker sebagai bagian dari tim multidisiplin. Sinergi antara perguruan tinggi, fasilitas pelayanan kesehatan, dan pemerintah daerah ini diyakini akan menciptakan ekosistem kesehatan yang lebih tangguh dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Dalam jangka panjang, keberhasilan penyelenggaraan PKPA perdana ini diharapkan dapat menjadi fondasi yang kokoh bagi pengembangan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker STIKES Buleleng menjadi pusat unggulan (center of excellence) pendidikan farmasi di kawasan Indonesia Timur, yang tidak hanya diminati oleh calon mahasiswa dari Bali tetapi juga dari provinsi-provinsi tetangga seperti Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Pihak kampus berencana untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas kerja sama dengan berbagai institusi, baik di dalam maupun luar negeri, guna membuka peluang magang, pertukaran mahasiswa, dan penelitian kolaboratif yang dapat memperkaya wawasan dan pengalaman belajar mahasiswa.

Dengan semangat inovasi dan komitmen mutu yang tidak pernah padam, STIKES Buleleng optimis dapat melahirkan generasi apoteker yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki jiwa kepemimpinan, kewirausahaan, dan kepekaan sosial yang tinggi, sehingga mampu menjadi agen perubahan dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih sehat, mandiri, dan berdaya saing global.

KUI_humas

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian
Scroll to Top