
Program Studi Sarjana Kebidanan STIKES Buleleng mengambil langkah strategis dan visioner dalam upaya meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan seluruh sivitas akademika menghadapi potensi bencana alam dengan menyelenggarakan kuliah pakar bertajuk “Siap Siaga Bencana Menuju Kampus Siaga Bencana”, sebuah inisiatif yang tidak hanya relevan dengan kondisi geografis Indonesia yang rawan bencana tetapi juga merupakan bentuk implementasi nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menekankan pada pengabdian kepada masyarakat dan pembangunan manusia seutuhnya.
Acara yang berlangsung di Aula Kampus STIKES Buleleng atau STIKES Buleleng Convention Center (SBCC)ini menghadirkan narasumber ahli di bidang kebencanaan, yaitu Bapak I Gusti Bagus Rony Ariyana, S.H., yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng, yang dengan pengalaman lapangannya yang luas diharapkan mampu memberikan wawasan komprehensif serta praktik terbaik dalam manajemen bencana. Narasumber kedua merupakan dosen STIKES Buleleng yang memiliki kepakaran kebencanaan yakni Ibu Ns. Made Martini, S.Kep., M.Kep.
Kegiatan ini diikuti dengan antusias oleh ratusan mahasiswa kebidanan, keperawatan dan farmasi dari berbagai angkatan, dosen, serta tenaga kependidikan, yang semuanya tampak serius menyimak materi yang dipaparkan mengenai siklus penanggulangan bencana mulai dari tahap prabencana, saat tanggap darurat, hingga pascabencana dengan fokus khusus pada peran vital tenaga kesehatan, terutama bidan, sebagai garda terdepan dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi dan ibu-anak di situasi krisis.

Ketua Senat, Dr. Ns. I Dewa Ayu Rismayanti, S.Kep., M.Kep.., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kuliah pakar ini bukan sekadar acara seremonial tahunan, melainkan sebuah fondasi awal yang kokoh untuk membangun kesadaran kolektif bahwa setiap individu di lingkungan kampus memiliki tanggung jawab moral dan profesional untuk menjadi agen perubahan dalam menciptakan lingkungan yang aman, tangguh, dan responsif terhadap segala bentuk ancaman bencana.
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk membekali para calon bidan dengan pengetahuan dan keterampilan praktis dalam melakukan asuhan kebidanan pada kondisi sulit, seperti di pengungsian atau fasilitas kesehatan yang terdampak bencana, sehingga mereka tidak hanya mampu bertindak cepat dan tepat tetapi juga mampu meminimalisir risiko morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi yang kerap melonjak tajam pascabencana.
Pihaknya juga berharap melalui pemaparan materi dari BPBD, mahasiswa dapat memahami secara utuh sistem komando tanggap darurat, mekanisme koordinasi lintas sektor, serta tata cara evakuasi mandiri yang aman, yang semuanya merupakan komponen krusial dalam mewujudkan visi besar “Kampus Siaga Bencana” yang tidak hanya tangguh secara infrastruktur tetapi juga unggul dalam sumber daya manusianya.

Dalam pemaparannya yang interaktif dan sarat akan data, Bapak Gusti Rony mengawali dengan memaparkan peta kerawanan bencana di wilayah Kabupaten Buleleng yang secara geografis memiliki kerentanan tinggi terhadap berbagai macam bencana seperti banjir bandang, tanah longsor, kekeringan, dan abrasi pantai, serta potensi gempa bumi yang tidak bisa diabaikan begitu saja mengingat posisi Bali yang diapit oleh dua lempeng tektonik aktif.
Beliau menjelaskan secara rinci mengenai siklus penanggulangan bencana yang komprehensif, dimulai dari tahap mitigasi struktural dan non-struktural yang harus dilakukan sebelum bencana terjadi, lalu dilanjutkan dengan tahap kesiapsiagaan yang melibatkan pelatihan dan simulasi rutin, kemudian tahap respons cepat saat bencana melanda yang menuntut kecepatan dan ketepatan pengambilan keputusan, dan yang tak kalah pentingnya adalah tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana yang bertujuan memulihkan kondisi masyarakat seperti sedia kala.
Sebagai seorang praktisi, ia juga menyoroti betapa pentingnya peran tenaga kesehatan, khususnya bidan, perawatan dan farmasi yang seringkali menjadi tumpuan harapan masyarakat di tengah keterbatasan akses dan sumber daya pascabencana, karena merekalah yang paling memahami kebutuhan spesifik perempuan hamil, ibu menyusui, dan bayi baru lahir yang rentan terhadap gangguan kesehatan dan kekerasan berbasis gender di lokasi pengungsian.

Para mahasiswa yang hadir tampak antusias mengikuti jalannya diskusi yang berlangsung dua arah, di mana mereka tidak segan-segan mengajukan pertanyaan kritis seputar tantangan nyata di lapangan, seperti bagaimana cara mempertahankan rantai dingin vaksin dan obat-obatan esensial ketika pasokan listrik terputus total selama berhari-hari pascagempa.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Kepala BPBD Buleleng memberikan apresiasi atas kepedulian mahasiswa dan menjelaskan bahwa dalam situasi darurat, protokol kesehatan darurat memang mengharuskan adanya prioritas dan inovasi sederhana namun efektif, misalnya dengan memanfaatkan generator portabel atau bahkan sistem penyimpanan sederhana berbasis masyarakat yang telah dilatih sebelumnya untuk menjaga vaksin tetap layak pakai.

Pertanyaan lain yang tak kalah menarik datang dari seorang mahasiswa semester akhir yang menanyakan tentang strategi komunikasi efektif yang harus dilakukan oleh seorang bidan ketika menghadapi masyarakat yang panik dan cenderung tidak percaya pada instruksi petugas, di mana narasumber menjawab dengan lugas bahwa kunci utama dalam situasi chaos adalah membangun kepercayaan melalui empati, komunikasi yang jernih dan tidak membingungkan, serta dengan menunjukkan sikap tenang dan kompeten sehingga masyarakat secara sukarela mengikuti arahan yang diberikan tanpa merasa dipaksa atau digurui.
Kegiatan kuliah pakar ini juga menjadi momentum penting bagi Program Studi Sarjana Kebidanan untuk secara resmi menggandeng BPBD Kabupaten Buleleng dalam sebuah nota kesepahaman awal yang akan ditindaklanjuti dengan berbagai program kolaboratif ke depannya, termasuk rencana penyusunan kurikulum berbasis kebencanaan yang terintegrasi dalam mata kuliah tertentu.
Kolaborasi ini diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara teori di ruang kelas dengan realita di lapangan, sekaligus membuka peluang bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam program-program pengurangan risiko bencana yang digagas oleh BPBD, seperti menjadi relawan kebencanaan atau terlibat dalam sosialisasi kepada masyarakat di daerah rawan bencana.
Dengan adanya kemitraan strategis ini, STIKES Buleleng, khususnya Prodi Kebidanan, menunjukkan komitmennya yang tidak setengah-setengah dalam melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam kompetensi klinis kebidanan tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi serta kesiapsiagaan mental dan fisik dalam menghadapi situasi darurat kapan pun dan di mana pun mereka bertugas nantinya.
Salah seorang peserta, Ni Luh Putu Ariyanti, mahasiswa semester V, mengungkapkan kesan mendalamnya setelah mengikuti kuliah pakar ini, dengan mengatakan bahwa ia merasa mendapatkan perspektif baru yang selama ini mungkin terlewatkan dalam perkuliahan rutin, yakni tentang bagaimana ilmu kebidanan harus bisa diadaptasi dan diaplikasikan dalam kondisi paling ekstrem sekalipun.
Ia menyadari bahwa menjadi bidan tidak hanya dituntut untuk terampil menolong persalinan normal di ruangan yang nyaman dan lengkap peralatannya, tetapi juga harus mampu berpikir kreatif dan bertindak sigap ketika harus menolong ibu melahirkan di atas tenda pengungsian yang penuh keterbatasan atau bahkan di reruntuhan bangunan.
Lebih lanjut, ia mengaku termotivasi untuk mulai mempelajari lebih dalam tentang manajemen bencana dan berencana untuk mengajak rekan-rekan seangkatannya untuk membentuk kelompok studi kecil yang fokus pada isu kebencanaan, sebagai langkah awal untuk mempersiapkan diri sebelum nantinya benar-benar diterjunkan ke masyarakat.
Antusiasme serupa juga ditunjukkan oleh Made Dwi Astuti, mahasiswa semester VII, yang menekankan pentingnya pelatihan simulasi bencana secara berkala di lingkungan kampus, karena menurutnya, teori yang sudah didapatkan hari ini harus segera dipraktikkan agar menjadi refleks dan tidak panik saat bencana yang sebenarnya terjadi secara tiba-tiba tanpa peringatan.

Pembicara kedia, Ibu Ns. Made Martini, S.Kep., M.Kep., yang turut menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Prodi Sarjana Kebidanan yang telah berinisiatif menyelenggarakan kegiatan yang sangat relevan dengan isu kekinian dan kebutuhan pembangunan kesehatan nasional.
Beliau menegaskan bahwa perguruan tinggi, terutama institusi kesehatan seperti STIKES Buleleng, memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk tidak hanya menjadi menara gading yang menghasilkan lulusan cerdas secara akademis, tetapi juga harus mampu menjadi pusat unggulan (center of excellence) dalam berbagai aspek, termasuk dalam hal kesiapsiagaan bencana yang merupakan bagian tak terpisahkan dari pembangunan berkelanjutan.
Pihaknya akan terus mendukung dan mendorong setiap program studi untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan inovatif yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas lulusan dan kontribusi nyata bagi masyarakat, serta berharap bahwa apa yang telah dimulai oleh Prodi Kebidanan ini dapat menjadi model atau percontohan bagi program studi lain di lingkungan STIKES Buleleng untuk turut serta mengarusutamakan isu kebencanaan dalam kurikulum dan kegiatan kemahasiswaan mereka.
Konsep “Kampus Siaga Bencana” yang menjadi tema besar dalam kuliah pakar ini bukanlah sekadar slogan kosong tanpa makna, melainkan sebuah target terukur yang ingin dicapai secara bertahap oleh STIKES Buleleng, yang di dalamnya mencakup berbagai aspek seperti ketersediaan jalur evakuasi yang jelas dan ramah disabilitas, keberadaan rambu-rambu peringatan dini yang mudah dipahami, serta pelatihan rutin bagi seluruh civitas akademika mengenai prosedur evakuasi mandiri dan pertolongan pertama pada keadaan darurat.
Untuk mewujudkan hal tersebut, tentu dibutuhkan kerja sama yang solid tidak hanya antara pimpinan institusi, dosen, dan mahasiswa, tetapi juga dengan berbagai pemangku kepentingan eksternal seperti BPBD, Palang Merah Indonesia (PMI), Dinas Kesehatan, serta organisasi masyarakat sipil lainnya yang bergerak di bidang penanggulangan bencana.
Dengan terbangunnya ekosistem kampus yang tangguh bencana, diharapkan ketika suatu saat bencana benar-benar terjadi, kampus tidak hanya menjadi tempat yang paling aman, tetapi juga mampu berfungsi sebagai pos komando atau pusat evakuasi sementara yang terorganisir dengan baik dan siap membantu masyarakat sekitar yang lebih luas.

Pada sesi penutupan, Sekprodi S1 Kebidanan dan Profesi Bidan sekaligus Ketua Panitia pelaksana, Ibu Bdn. Luh Ayu Purnami, S.ST., M.Tr.Keb., menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas partisipasi aktif semua pihak yang telah membuat acara ini berjalan sukses dan penuh makna, serta berharap bahwa ilmu dan wawasan yang telah diperoleh selama kuliah pakar ini tidak hanya berhenti sebagai catatan di buku tetapi benar-benar meresap menjadi kesadaran dan keterampilan praktis.
Beliau juga menyampaikan bahwa kegiatan ini akan ditindaklanjuti dengan serangkaian program kerja nyata, seperti penyusunan peta risiko bencana kampus secara partisipatif, pembentukan tim siaga bencana mahasiswa yang akan dilatih secara khusus oleh BPBD, serta rencana pelaksanaan simulasi bencana skala penuh dalam waktu dekat yang melibatkan seluruh elemen kampus dan masyarakat sekitar.
Dengan adanya rencana tindak lanjut yang konkret ini, para peserta tidak perlu khawatir bahwa semangat dan ilmu yang mereka dapatkan hari ini akan menguap begitu saja, karena akan terus dipupuk melalui kegiatan-kegiatan nyata yang terstruktur dan berkelanjutan demi terwujudnya STIKES Buleleng sebagai kampus yang benar-benar siaga dan tangguh dalam menghadapi bencana di masa depan.
Secara keseluruhan, kuliah pakar yang diselenggarakan oleh Prodi Sarjana Kebidanan dan Profesi Bidan STIKES Buleleng ini merupakan sebuah langkah maju yang progresif dan patut diapresiasi, karena secara langsung menjawab tantangan zaman di mana perubahan iklim dan degradasi lingkungan telah meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana alam di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Inisiatif ini membuktikan bahwa dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi kesehatan, memiliki peran yang sangat strategis dalam membangun ketahanan bangsa, tidak hanya melalui riset dan inovasi teknologi, tetapi juga melalui pembentukan karakter dan kapasitas sumber daya manusianya sejak dini.
Dengan bekal pemahaman yang komprehensif tentang manajemen bencana dan kesiapsiagaan yang terus diasah, para calon bidan lulusan STIKES Buleleng diharapkan dapat menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan ibu dan anak yang andal, tidak hanya dalam kondisi normal tetapi juga dalam situasi paling sulit sekalipun, sehingga cita-cita untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta mewujudkan generasi emas Indonesia yang sehat dan cerdas dapat tercapai meskipun di tengah berbagai keterbatasan akibat bencana.
KUI_humas