
Dalam upaya mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus menjawab tantangan pembangunan kesehatan di masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Buleleng secara resmi menggandeng Pemerintah Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng sebagai desa binaan dalam program Kuliah Kerja Nyata Interprofessional Collaboration (KKN IPC) yang akan berlangsung sepanjang tahun 2026, sebuah langkah strategis yang diharapkan mampu memberikan dampak signifikan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia dan derajat kesehatan masyarakat di wilayah pesisir utara Bali tersebut.
Desa Tembok, yang sebelumnya telah menunjukkan keseriusannya dalam membangun kapasitas masyarakat melalui Program Rumah Bertumbuh dan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak, kini mendapat angin segar dengan hadirnya kontribusi nyata dari civitas akademika STIKes Buleleng yang membawa misi kolaborasi lintas profesi untuk memajukan sektor kesehatan dan kesejahteraan masyarakat secara komprehensif.
Sinergi KKN IPC dan Program Rumah Bertumbuh

Kerja sama ini merupakan bentuk sinergi antara program unggulan KKN IPC yang baru pertama kali dilaksanakan STIKes Buleleng pada akhir tahun 2024 di Desa Depeha, dengan konsep pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal yang telah berjalan di Desa Tembok, sehingga diharapkan terjadi transfer pengetahuan dan keterampilan yang saling menguntungkan bagi mahasiswa, dosen, dan masyarakat desa.
Perbekel Desa Tembok, Dewa Ketut Willy Asmawan, menyampaikan bahwa pihaknya sangat mengapresiasi pilihan STIKes Buleleng yang menjadikan desanya sebagai lokasi KKN IPC 2026, karena kehadiran mahasiswa dan dosen dari berbagai program studi kesehatan diharapkan mampu memberikan warna baru dan solusi inovatif bagi permasalahan kesehatan yang selama ini dihadapi oleh warga Desa Tembok.
“Program Rumah Bertumbuh yang sudah kami bangun sebagai ruang kreativitas bagi masyarakat membutuhkan pendampingan dari berbagai sektor keilmuan, dan kami meyakini bahwa kehadiran para mahasiswa dari STIKes Buleleng akan menjadi katalisator bagi terwujudnya masyarakat desa yang sehat, cerdas, dan berdaya saing dalam menghadapi dinamika pembangunan,” ujar Yudi dengan penuh antusiasme.
Sementara itu, Ketua STIKes Buleleng, Dr. Ns. I Made Sundayana, S.Kep., SE., MSi., M.Kes., menjelaskan bahwa kolaborasi strategis antara institusi pendidikan dan pemerintah desa ini merupakan wujud nyata komitmen kampus untuk tidak hanya mencetak tenaga kesehatan profesional tetapi juga secara langsung terjun mengabdi dan memecahkan masalah kesehatan di tengah masyarakat.
“Melalui konsep KKN IPC, mahasiswa dari program studi Sarjana Kebidanan, S1 Keperawatan, dan S1 Farmasi akan berkolaborasi dalam berbagai intervensi kesehatan yang terintegrasi, mulai dari pelayanan kesehatan primer, edukasi kesehatan reproduksi, pencegahan stunting, hingga pemanfaatan tanaman obat keluarga sebagai upaya kemandirian kesehatan masyarakat di Desa Tembok,” jelas Dr. I Made Sundayana.
121 Mahasiswa Siap Terjun ke Masyarakat

Sebanyak 121 mahasiswa semester akhir yang berasal dari tiga program studi di lingkungan STIKes Buleleng akan diterjunkan secara bertahap ke Desa Tembok selama periode KKN tahun 2026, dengan didampingi oleh dosen pembimbing yang memiliki kompetensi di bidang kesehatan masyarakat, kebidanan, keperawatan, dan farmasi guna memastikan setiap program yang dijalankan tepat sasaran dan berkelanjutan.
Koordinator KKN IPC STIKes Buleleng, Ns. Ni Ketut Putri Marthasari, S.Kep., M.Kep., menegaskan bahwa pemilihan Desa Tembok sebagai lokasi KKN 2026 didasarkan pada pertimbangan matang, yaitu melihat potensi besar yang dimiliki desa serta kesiapan perangkat desa dan masyarakat dalam berkolaborasi untuk mewujudkan program pembangunan kesehatan yang terencana dan terukur.
“Desa Tembok memiliki karakteristik yang unik dengan tantangan kesehatan yang beragam, mulai dari akses layanan kesehatan yang masih terbatas, masalah gizi pada ibu hamil dan balita, hingga rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pengobatan non-farmakologis yang berbasis pada potensi lokal seperti tanaman obat,” ungkap Putri saat ditemui di ruang kerjanya.
Selain itu, adanya inisiatif Program Rumah Bertumbuh yang telah berjalan di Desa Tembok menjadi nilai tambah yang memungkinkan mahasiswa untuk berintegrasi dengan program yang sudah ada dan bersama-sama mengembangkannya menjadi lebih terstruktur dan berdampak luas bagi seluruh lapisan masyarakat desa.
Program Unggulan: Terapi Komplementer dan Pemberdayaan TOGA
Salah satu program unggulan yang akan diimplementasikan dalam KKN IPC 2026 di Desa Tembok adalah penguatan layanan kesehatan melalui terapi komplementer yang terintegrasi dengan upaya kesehatan masyarakat lainnya, dengan sasaran utama keluarga, ibu hamil, ibu nifas dan menyusui, bayi dan anak balita, kader posyandu, serta kelompok PKK yang selama ini menjadi garda terdepan dalam pembangunan kesehatan berbasis masyarakat.
Program ini sejalan dengan kegiatan pengabdian masyarakat yang sebelumnya telah berhasil dilakukan oleh tim dosen STIKes Buleleng di Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, yang mencakup pelatihan kader komplementer, pelatihan peracikan obat tradisional, teknik pijat pada ibu menyusui dan bayi, prenatal gentle yoga, serta budidaya tanaman obat keluarga di setiap rumah warga.
G. Nur Widya Putra, salah satu dosen yang terlibat dalam pengabdian masyarakat berbasis pemanfaatan TOGA, menjelaskan bahwa pemberdayaan masyarakat melalui tanaman obat keluarga bukan hanya bertujuan untuk menjaga kesehatan keluarga secara mandiri, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui pengolahan produk kesehatan dan pangan fungsional yang bernilai jual tinggi.
“Kami telah membuktikan di Desa Sembiran bahwa tanaman seperti sereh, kunyit, jahe, dan kelor yang selama ini hanya digunakan sebagai bumbu dapur dapat diolah menjadi minyak atsiri, lotion anti nyamuk, hingga camilan sehat puff kelor yang disukai anak-anak, sehingga inovasi ini tidak hanya meningkatkan derajat kesehatan tetapi juga kesejahteraan ekonomi masyarakat,” papar Nur Widya Putra.
Dukungan Penuh Pemerintah dan Masyarakat
Pemerintah Desa Tembok melalui jajaran perbekel, lembaga adat, kader posyandu, dan kelompok PKK telah menyatakan kesiapan penuh untuk mendukung kelancaran program KKN IPC 2026, termasuk menyediakan fasilitas dan sarana prasarana yang dibutuhkan oleh mahasiswa selama melaksanakan pengabdian di desa tersebut.
Dewa Komang Yudi Astara menekankan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari strategi pembangunan desa yang berorientasi pada penguatan sumber daya manusia, di mana kehadiran perguruan tinggi diharapkan dapat mengisi ruang-ruang keterbatasan yang dimiliki desa, khususnya dalam hal akses terhadap pengetahuan dan teknologi kesehatan yang mutakhir.
“Kami sadar bahwa Desa Tembok memiliki banyak keterbatasan, terutama dalam hal akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas dan informasi kesehatan yang akurat, dan melalui sinergi ini kami berharap dapat melengkapi kekurangan tersebut sehingga masyarakat kami dapat hidup lebih sehat, produktif, dan sejahtera,” tambah Yudi dengan penuh harap.
Sementara itu, masyarakat Desa Tembok melalui perwakilan kader posyandu dan ibu-ibu PKK menyambut baik rencana kedatangan mahasiswa STIKes Buleleng dan berharap agar program-program yang akan dilaksanakan dapat memberikan manfaat langsung yang dirasakan oleh seluruh warga, terutama dalam upaya pencegahan stunting, peningkatan gizi anak, dan pemberdayaan perempuan di bidang kesehatan.
Keberlanjutan Program dan Evaluasi
Ketua STIKes Buleleng, Dr. Ns. I Made Sundayana, menegaskan bahwa KKN IPC 2026 di Desa Tembok tidak hanya akan berlangsung selama periode KKN, tetapi akan dilanjutkan dengan program pendampingan dan evaluasi secara berkala untuk memastikan bahwa seluruh intervensi yang telah dilakukan memberikan dampak jangka panjang dan dapat diadopsi oleh masyarakat secara mandiri.
“Kami berkomitmen untuk tidak hanya sekadar menerjunkan mahasiswa, tetapi juga melakukan monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan, serta membangun mekanisme keberlanjutan program melalui penguatan kapasitas kader kesehatan dan kelompok PKK agar mereka mampu melanjutkan program-program yang telah dimulai selama masa KKN,” ungkap Dr. I Made Sundayana.
Selain itu, STIKes Buleleng juga akan menjalin kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, puskesmas setempat, organisasi profesi, dan dunia usaha, untuk menciptakan ekosistem pembangunan kesehatan yang berkelanjutan dan terintegrasi di Desa Tembok serta desa-desa lain di wilayah Buleleng pada masa mendatang.
Dengan adanya kolaborasi strategis antara STIKes Buleleng dan Desa Tembok melalui program KKN IPC 2026, diharapkan tercipta sinergi positif yang tidak hanya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, tetapi juga memperkuat peran perguruan tinggi sebagai motor penggerak pembangunan yang berdampak nyata di tengah masyarakat, sekaligus menjadi model bagi kolaborasi serupa di desa-desa lain di Kabupaten Buleleng dan Provinsi Bali.
KUI_humas