
Untuk pertama kalinya dalam penyelenggaraan Simposium Kesehatan Nasional (SIMKESNAS) Ke-4, STIKES Buleleng menghadirkan pembicara internasional dari Thailand sebagai Guest Speaker, menandai babak baru dalam kolaborasi global di bidang pendidikan kesehatan. Acara yang digelar secara hybrid ini sukses menarik kurang lebih 1.000 peserta, termasuk akademisi, praktisi kesehatan, mahasiswa, serta perwakilan institusi kesehatan dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara.
Kehadiran Asst. Profesor dan Pakar Pariwisata Kesehatan dari Thailand ini, tidak hanya memperkaya wawasan peserta dengan best practices dan inovasi kesehatan global, tetapi juga membuka peluang kerjasama lintas negara dalam riset, pertukaran pelajar, dan pengembangan teknologi medis. Dengan tema “Medical Tourism Destination Trend: Integrasi Kesehatan Komprehensif Dalam Pariwisata Berkelanjutan”, SIMKESNAS 4 berhasil menciptakan ruang diskusi yang dinamis tentang tantangan dan solusi kesehatan kontemporer, mulai dari manajemen pandemi, digitalisasi layanan kesehatan, hingga penguatan sistem kesehatan berbasis komunitas.

Dalam sesi keynote-nya, Guest Speaker dari Thailand, Dr. Pisit Poltana, Ph.D. yang merupakan Asst Profesor dan Assistant the President of Praboromarajchanok Institute, Thailand serta Director of Boromarajonani College of Nursing, Suphanburi, Thailand salah satu Universitas Terkemuka di Bangkok, Thailand. Dr. Pisit memaparkan strategi sukses Thailand dalam menjadikan dirinya sebagai salah satu destinasi pariwisata kesehatan atau medical tourism terbaik di dunia.
Keberhasilan Thailand menjadi poros pariwisata kesehatan yang dapat ditiru oleh negara-negara sahabat di Kawasan Asia Tenggara. “Thailand telah membuktikan bahwa investasi dalam layanan kesehatan primer, pelatihan tenaga medis berkelanjutan, dan integrasi teknologi kesehatan dapat secara signifikan meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan, bahkan di daerah pedesaan menjadi kunci Thailand menjadi tujuan wisawatan untuk mendapatkan layanan kesehatan terbaik,” ujarnya dengan penuh semangat.
Beliau juga menyoroti peran kunci pendidikan tinggi kesehatan dalam menghasilkan SDM yang kompeten dan adaptif, di mana kurikulum berbasis kompetensi dan pembelajaran experiential learning menjadi fondasi utama. Peserta symposium antusias menyimak studi kasus tentang program kesehatan masyarakat Thailand, seperti penggunaan mobile health units untuk daerah terpencil dan implementasi AI dalam diagnosa penyakit menular, yang bisa menjadi referensi berharga bagi Indonesia.

Momen bersejarah ini tidak hanya berhenti pada diskusi inspiratif, tetapi juga menjadi tanda pengimplementasian Memorandum of Understanding (MoU) antara STIKES Buleleng dan Boromarajonani College of Nursing, Suphanburi, Thailand, yang mencakup kerjasama riset, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta pengembangan program joint publication. Ketua STIKES Buleleng, Dr. Ns. I Mde Sundayana, S.Kep., MSi., M.Kes. dalam sambutannya menyatakan, “Ini adalah langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas institusi kami di kancah global, sekaligus memberi kesempatan bagi mahasiswa kami untuk mendapatkan exposure internasional.
” Salah satu poin menarik dari MoU ini adalah rencana pelaksanaan program pertukaran untuk mahasiswa dan dosen, serta pelatihan bersama tentang pengobatan tradisional yang menjadi keunggulan Thailand. Selain itu, STIKES Buleleng juga mengumumkan program beasiswa short course di Thailand bagi mahasiswa berprestasi yang ingin mendalami topik-topik spesifik seperti epidemiologi digital, manajemen bencana kesehatan, dan kebijakan kesehatan global.

Sesi panel yang menghadirkan pakar kesehatan dari Thailand membandingkan pencapaian dan tantangan sistem layanan pariwisata kesehatan kedua negara. Pembicara memaparkan bagaimana kebijakan kesehatan berbasis data dan partisipasi masyarakat telah membantu negaranya menekan angka kematian ibu dan anak secara signifikan. Sementara itu, guest speaker mengakui bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pemerataan layanan kesehatan, tetapi sedang berupaya mempercepat transformasi digital kesehatan melalui aplikasi seperti SatuSehat.
Pembicara Kedua SIMKESNAS 4 ditutup dengan komitmen bersama untuk memperkuat jejaring kesehatan Indonesia-Thailand, termasuk rencana kunjungan balasan ke Thailand oleh delegasi STIKES Buleleng dan proyek riset kolaboratif tentang penyakit tropis. Ketua STIKES Buleleng menegaskan, “Ini baru awal dari perjalanan panjang kami menuju internasionalisasi, dan kami berharap kerjasama ini bisa menjadi model bagi institusi kesehatan lainnya di Indonesia.” Guest Speaker dari Thailand pun menyampaikan apresiasi, “Saya sangat terkesan dengan semangat belajar dan inovasi dari peserta Indonesia, dan saya yakin kolaborasi antara kedua negara akan membawa dampak besar bagi kesehatan global.”

KUI_humas