Sukses Gelar Simposium Kesehatan Nasional (SIMKESNAS) Ke-4, Dorong Inovasi dan Kolaborasi untuk Transformasi Kesehatan Nasional!!!

Dalam gelaran Simposium Kesehatan Nasional (SIMKESNAS) ke-4 yang diselenggarakan oleh STIKES Buleleng, Prof. Ir. Aisyah Endah Palupi, M.Pd. selaku Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Sesditjen Dikti), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Republik Indonesia hadir secara daring sebagai KEYNOTE SPEAKER untuk membahas strategi penguatan sistem kesehatan melalui inovasi pendidikan tinggi dan kolaborasi multidisiplin. Acara yang berlangsung secara hybrid ini dihadiri oleh kurang lebih dari 1.000 peserta, termasuk akademisi, praktisi kesehatan, mahasiswa, serta pemangku kebijakan dari berbagai daerah, menandakan komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia.
Dengan tema “Medical Tourism Destination Trend: Integrasi Kesehatan Komprehensif Dalam Pariwisata Berkelanjutan”, SIMKESNAS 4 menjadi wadah diskusi yang kritis dan solutif untuk menjawab kompleksitas isu kesehatan kontemporer, mulai dari digitalisasi layanan kesehatan, kesiapan SDM medis, hingga kebijakan kesehatan berkelanjutan. Kehadiran Sesditjen Dikti tidak hanya memberikan perspektif kebijakan makro, tetapi juga mendorong sinergi antara institusi pendidikan, pemerintah, dan industri untuk menciptakan ekosistem kesehatan yang tangguh dan inklusif.
Dalam pidato pembukaannya, Sesditjen Dikti menekankan bahwa revolusi industri 4.0 dan society 5.0 telah mengubah paradigma layanan kesehatan, sehingga pendidikan tinggi kesehatan harus beradaptasi dengan kurikulum yang relevan, teknologi terkini, dan pendekatan holistik. “Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan metode konvensional; transformasi digital, artificial intelligence, dan big data harus diintegrasikan dalam pembelajaran agar lulusan siap menghadapi dinamika global,” ujarnya dengan penuh semangat.

Lebih lanjut, beliau menyoroti pentingnya riset terapan dan pengabdian masyarakat sebagai bagian dari Tridharma Perguruan Tinggi, di mana hasil penelitian harus bisa diimplementasikan langsung untuk memecahkan masalah kesehatan di tingkat akar rumput. Tantangan seperti stunting, penyakit menular, dan disparitas akses kesehatan memerlukan solusi berbasis evidence-based policy, dan di sinilah peran kampus sebagai agen perubahan menjadi krusial. Selain itu, kolaborasi dengan rumah sakit, puskesmas, dan industri kesehatan harus diperkuat untuk menciptakan link and match antara teori dan praktik, sehingga lulusan tidak hanya kompeten secara akademis tetapi juga siap kerja.
STIKES Buleleng menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan pendidikan kesehatan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat, terutama di wilayah rural dan kepulauan yang seringkali menghadapi keterbatasan fasilitas kesehatan. Dr. Ns. I Made Sundayana, S.Kep., MSi., M.Kes.; Ketua STIKES Buleleng dalam sambutannya menyatakan, “Kami tidak hanya fokus pada pencetakan tenaga kesehatan profesional, tetapi juga pada penguatan peran mahasiswa dalam program community health empowerment, seperti posyandu revitalisasi, edukasi gizi, dan telemedicine untuk daerah terpencil.”

Sesi panel juga menghadirkan pembicara tamu atau Guest Speaker dari Thailand dan Pembicara Ahli atau Expert Speaker dari Universitas Udayana yang mendiskusikan strategi pembangunan ketahanan kesehatan sebagai trend wisata baru di dunia. Salah satu poin kritis yang mengemuka adalah kebutuhan akan redistribusi tenaga kesehatan untuk mengatasi kesenjangan distribusi dokter dan perawat antara kota besar dan daerah terpencil di Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya. Hal ini diperlukan guna pemerataan standar layanan kesehatan berbasis pariwisata dengan keunggulan kearifan lokal masing-masing.
Untuk itu, insentif dan kebijakan afirmasi seperti program wajib kerja dokter muda, satu desa satu perawat, bidan dan farmasi perlu diperluas, didukung dengan pelatihan berkelanjutan dan sistem telemedicine untuk memperkuat layanan primer. Selain itu, isu burnout pada tenaga kesehatan pasca-pandemi juga menjadi perhatian, sehingga pendidikan tinggi harus memasukkan aspek mental health resilience dalam kurikulum.
Sesditjen Dikti menegaskan, “Kesehatan adalah investasi bangsa, dan pendidikan tinggi harus menjadi garda terdepan dalam melahirkan inovasi dan SDM unggul yang dapat menjawab tantangan masa depan.” Acara ini tidak hanya berhasil mempertemukan pemangku kepentingan dari berbagai sektor, tetapi juga mendorong terciptanya solusi konkret untuk peningkatan kualitas kesehatan nasional.

KUI_humas