Dokter Caput (dr.Ketut Putra Sedana,SpOG) Sukses Bedah Buku dan Siap Hadapi Ujian Disertasi

Public figure tampan yang tidak asing lagi bagi masyarakat Buleleng, sudah menjadi trend dalam segala lini dengan senyum khas nya yang ramah, kumis tebal dan rapi. Dokter spesialis kandungan yang memiliki “Klinik Bersalin Permata Bunda” yang terletak di Singaraja, dosen di STIKes Buleleng dan menduduki multi kegiatan sosial termasuk membantu anak yatim piatu, beliaulah dr.Ketut Putra Sedana,SpOG. Baginya menerbitkan sebuah buku adalah obsesinya sejak lama, sudah pasti memori alias perjalanan hidup yang penuh liku namun seni. Pada lembar – lembar awal bedah bukunya terketik. Bagi saya pribadi,perjalanan hidupnya ibarat ” Kitab Suci”, ya itulah perjalanan hidup yang sekiranya perlu ditulis guna mengenang potret masa lalu.

       Banyak para tokoh, baik itu dari kalangan pendidikan, media, adat, agama, birokrasi dan bahkan budayawan telah membubuhkan kata pengantarnya. Dengan demikian modal sosial telah ditanam oleh dr.Caput, yang sudah pasti merupakan investasi sosial yang membuktikan beliau siap menebar manfaat untuk umat, masyarakat dan bangsa diatas kepentingan bersama yang sudah pasti rasa syukur akan menjemputnya.

       Dalam wawancara inklusif bersama awak media dikediamanya, Jalan Gajah Mada Singaraja, selain sukses bedah buku, juga tanggal 3 Januari 2022 nanti beliau akan menghadapi  ujian Disertasinya di UNDIKSHA Singaraja, dengan doa dilancarkan semua oleh Yang Maha Kuasa, dan selamat juga atas naik tingkat pada sabuk bela diri karate DAN 4. Inilah sebuah inspirasi bagi generasi muda untuk menuju sebuah kesuksesan dari perjalanan hidup sekaligus kenangan hidup beliau dr.caput.

       dr.caput kelahiran 6 Maret 1969 dari pasangan I Nyoman Gegel Sulendra, BA, dengan Ni Ketut Sukarni, lahir di Klinik Pantisila Singaraja yang tinggal di Banjar Tengah Kelurahan Astina, Singaraja, Bali. Putra ke empat yg hapal betul tempat pendidikan dari Sekolah Dasar di SD 3 Banjar Jawa (dulu SD 17/21 Singaraja), SMP Negeri 1 dan SMA Negeri 1 Singaraja lanjut, Fakultas Kedokteran UNUD Denpasar lulus tahun 1995 dan tahun 2000-2005 menuntaskan Pendidikan Spesialis dan menyandang gelar SpOG (Spesialis Obstretricngenecologhi) di Fakultas Kedokteran UNUD Denpasar juga. Dan pernah menjadi PTT di Puskesmas II Sawan Menyali, pengalaman pun luar biasa pahit dan manisnya yang sudah pasti dirasakan.

       Bela diri adalah dambaannya khususnya karate, diakui jujur dan tersulut emosi hingga perkelahian terjadi dan pernah di tampar oleh gurunya sendri kemudian ngambul di pantai sebagai wujud rasa jengahnya sekaligus intropeksi diri, wajar kedua orang tuanya terkadang bingung hingga harus berhadapan sekaligus mohon petunjuk kepada paranormal atas hilangnya sejenak saat mereka berkelahi.

       Wajar dengan keuletannya di kelas 3, SMAN 1 Singaraja telah menduduki diri sebagai pelatih bela diri karate dan selalu ikut dalam event-event bergengsi, kalah menang adalah jembatan menuju sukses dan di Desember 2021 mudah-mudahan sudah menduduki sabuk (DAN) 4.

       Benar adanya hidupnya adalah sebuah proses jalanilah dengan sabar dihiasi dengan kasih iklas sabar dan bersyukur. Begitu pula keberhasilan adalah dambaan setiap orang. Memang cita-citanya dan kebanggaannya adalah ingin menjadi insinyur, suka pelajaran matematika sejak sekolah dasar namun alam dan kodrat bicara lain kegagalan di ITS dan perguruan tinggi lainnya, namun FK UNUD Denpasar membentuknya menjadi Dokter. Memang masa lalu telah berlalu kembalipun akan sulit namun tetap dikenang, sejak SD sudah terbiasa berjualan es kaput keliling termasuk di jual di sekolahnya makanya beliau dapat julukan Dokter Caput. Di tempat tinggalnya yang lama banyak mengenal istilah “Asem Tenggeng” (ya memang mereng pokoknya). Di SMP ia ngernet bemo sudah pasti juga ingin meraih hasil bahkan menjadi asisten supir dan mampu merebut muatan pada jaman itu.

       Cengkraman pandemi COVID-19 punya catatan banyak baginya karena telah menggoncang dunia dan memiliki lembar dan catatan sendiri bagi keluarganya. Tiga dari lima keluarga intinya pernah menjalani isolasi mandiri (isoman) selama 14 hari di rumah dari bulan juni 2021 hingga juli 2021 (istri dan anak-anaknya dan syukur telah sehat kembali) baginya menghadapi COVID-19 hendaknya sabar hindari emosi, frustasi, kecewa, maupun galau. Memang inilah ujian hidup kita bersama.

       Saat wisuda spesialisnya tahun 2005 betul-betul ujian berat baginya karena kehilangan sosok panutan baginya sang bapak hingga nyusul ibunya karena kanker tahun 2010. Padahal beliau saat menjalani KOAS beliau bolak balik Singaraja-Denpasar guna ikut merawat orang tuanya di Rumah Sakit singaraja hingga meninggalnya di RS Umum Pusat Sanglah Denpasar. Benar adanya di lembar akhir buku yg beliau bedah terketik kalimat yg indah, kita bisa hidup dari apa yg kita dapatkan dan kita bisa membuat hidup dari apa yang kita berikan. Itu berarti kebahagiaan mungkin terlahir dari memberi dengan iklas dan selalu bersyukur.

       Banyak petuah beliau pakai sandaran untuk hidup sukses kedepan dari sejak kecil hingga sudah menjadi public figur hingga sekarang ini dan beliau mengakui “Tan Hana Wong Swasta Nulus.” Maksud beliau tak ada manusia yg berjalan mulus tanpa cela sedikitpun lanjut beliau mengucapkan terimakasih dengan suksesnya membedah buku ini sudah pasti kepada kedua orang tuanya yang telah hidup di dunia lain kemudian pada istri tercinta saudara para keluarga yg lain anak-anak tercinta handai taulan para tokoh yang sudah mensupport sekaligus membubuhkan kata pengantar yang tidak dapat disebut satu persatu sadari juga buku kecil ini semoga bermanfaat, memang benar kata pepatah tak ada gading yang tak retak dan Beliau sempat mengucapkan dirgahayu STIKes Buleleng yang ke-7 dalam Dies Nathalis yang puncak acaranya 9 Januari 2021 mohon apa bila kesalahan nampak yg sulit kami deteksi astungkara.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
Scroll to Top