STIKES BULELENG JADI TUAN RUMAH PENDAMPINGAN PROGRAM RPL BAGI PERGURUAN TINGGI SWASTA DI BULELENG OLEH LLDIKTI WILAYAH 8  

Dalam sebuah langkah strategis untuk mendorong transformasi pendidikan tinggi di wilayah Bali Utara, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Buleleng bersama dengan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VIII menyelenggarakan kegiatan pendampingan intensif yang berfokus pada implementasi Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).

Sebuah kebijakan nasional dari Kementerian Pendidikan yang bertujuan memberikan pengakuan resmi terhadap capaian pembelajaran yang diperoleh masyarakat melalui jalur pendidikan formal, nonformal, informal, maupun pengalaman kerja selama bertahun-tahun, sehingga mereka dapat melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi tanpa harus mengulang materi yang sudah dikuasai. 

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Pendopo Meeting Room, Kampus 1 STIKES Buleleng ini secara khusus diperuntukkan bagi para pengelola program studi dan tenaga akademik dari berbagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang berada di Kabupaten Buleleng. Pendampingan ini dilakukan mengingat masih banyaknya institusi yang membutuhkan panduan teknis dan pemahaman mendalam tentang mekanisme konversi satuan kredit semester (SKS) serta penyusunan kurikulum berbasis RPL yang sesuai dengan standar nasional pendidikan tinggi.

Tim Pendamping LLDIKTI Wilayah VIII menekankan bahwa pendampingan ini merupakan bagian dari komitmen lembaga untuk memastikan setiap PTS di wilayah Bali dan Nusa Tenggara mampu mengimplementasikan kebijakan RPL secara optimal, karena program ini tidak hanya membuka akses seluas-luasnya bagi tenaga kerja profesional yang ingin meningkatkan kualifikasi akademiknya, tetapi juga menjadi instrumen kunci dalam mewujudkan konsep pembelajaran sepanjang hayat yang digalakkan oleh pemerintah pusat. 

Sementara itu, perwakilan dari STIKES Buleleng menyampaikan bahwa pihaknya sangat antusias menjadi tuan rumah sekaligus fasilitator dalam kegiatan kolaboratif ini, mengingat STIKES Buleleng sendiri telah memiliki pengalaman praktis dalam menyelenggarakan program RPL bagi para bidan yang ingin meningkatkan kompetensi melalui program profesi, sehingga ilmu dan pengalaman tersebut dapat dibagikan kepada PTS lain di Buleleng yang baru memulai atau tengah mengembangkan skema RPL di kampusnya masing-masing.

Selama sesi pendampingan, para peserta diajak untuk mendalami berbagai aspek teknis penyelenggaraan RPL, mulai dari mekanisme asesmen terhadap portofolio calon mahasiswa, metode konversi pengalaman kerja menjadi kredit akademik, hingga penyusunan dokumen kurikulum yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan dunia industri, yang semuanya bertujuan untuk memastikan bahwa lulusan program RPL memiliki kompetensi yang setara dengan lulusan jalur reguler tanpa mengurangi kualitas capaian pembelajaran. 

Selain itu, diskusi interaktif dalam pendampingan tersebut juga menyoroti pentingnya sosialisasi program RPL kepada masyarakat luas, karena masih banyak tenaga kerja berpengalaman, terutama di sektor kesehatan dan pariwisata, yang belum menyadari bahwa pengalaman kerja dan pelatihan nonformal yang mereka miliki dapat dikonversi menjadi nilai akademis yang mempercepat masa studi mereka di perguruan tinggi, sebuah potensi besar yang sayang untuk dilewatkan.

Melalui kegiatan pendampingan yang berlangsung penuh semangat dan antusiasme tinggi ini, diharapkan seluruh PTS di Buleleng dapat segera mengimplementasikan program RPL di masing-masing institusi, sehingga semakin banyak masyarakat, khususnya para pekerja yang sudah bertahun-tahun mengabdi namun belum meraih gelar sarjana, dapat merasakan manfaat kebijakan inovatif ini untuk meningkatkan karier, kesejahteraan, dan kontribusi mereka bagi pembangunan daerah di Bumi Panji Sakti.

KUI_humas

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian
Scroll to Top