MAHASISWA STIKES BULELENG MERAIH JUARA 2 LOMBA POSTER DALAM RANGKA HUT PPNI KE-52 TAHUN 2026

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh civitas akademika Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Buleleng di kancah nasional, di mana mahasiswinya berhasil menyabet gelar Juara 2 dalam ajang Lomba Poster yang digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) yang ke-52 tahun 2026.

Kegiatan yang berlangsung meriah ini tidak hanya menjadi ajang unjuk kreativitas, tetapi juga menjadi wadah strategis bagi para perawat muda dari seluruh Indonesia untuk mengaktualisasikan pemikiran kritis mereka mengenai isu-isu terkini yang berkembang pesat di dunia pelayanan kesehatan tanah air.

Ajang bergengsi ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai institusi pendidikan kesehatan, mulai dari akademi keperawatan, politeknik kesehatan, hingga universitas ternama yang tersebar dari Bali, sehingga kemenangan ini tentu bukanlah sebuah pencapaian yang mudah untuk didapatkan.

Mahasiswa yang berhasil mengharumkan nama STIKES Buleleng tersebut adalah Ni Kadek Diah Ayu Oktarina; Komang Satya Dharma Pramulya Giri; dan I Gede Wahyu Arta Pratama, mahasiswa Program Studi Sarjana Keperawatan dan Profesi Ners yang sejak awal telah menunjukkan bakat luar biasa dalam mengkolaborasikan antara konsep keilmuan keperawatan dengan estetika seni visual.

Dengan mengusung tema besar “Healthy Nation, Strong Economy” yang menjadi semangat utama peringatan HUT PPNI tahun ini, karya poster yang diciptakan oleh Kadek Diah dan tim mampu menyajikan narasi mendalam tentang transformasi pelayanan keperawatan di era digital yang menuntut adaptasi cepat tanpa meninggalkan nilai-nilai humanis yang menjadi fondasi utama profesi ini.

Proses kreatif di balik terciptanya poster pemenang juara kedua tersebut ternyata melalui perjalanan yang cukup panjang dan penuh dengan proses pembelajaran berharga bagi mahasiswa yang akrab disapa Kadek Diah. Ia mengaku bahwa ide awal pembuatan poster berawal dari keprihatinannya terhadap tantangan ganda yang dihadapi oleh profesi perawat saat ini, di mana di satu sisi mereka dituntut untuk menguasai teknologi canggih seperti rekam medis elektronik dan sistem informasi kesehatan terintegrasi, namun di sisi lain mereka juga harus tetap mempertahankan sentuhan empati dan kehadiran fisik yang menenangkan bagi pasien dan keluarganya.

Selama kurang lebih tiga minggu, Kadek Diah dan tim melakukan eksplorasi berbagai referensi visual dan data ilmiah untuk memastikan bahwa setiap elemen yang ia tuangkan dalam poster tersebut tidak hanya indah secara artistik tetapi juga akurat secara substansi keperawatan. Dosen pembimbing dari STIKES Buleleng, Ns. Ni Made Dwi Yunica Astriani, S.Kep., M.Kep., yang juga selaku Kaprodi S1 Keperawatan dan Profesi Ners menyatakan bahwa pendekatan yang digunakan Komang Satya dalam menyusun konsep poster tersebut sangatlah sistematis dan berbasis pada bukti ilmiah terkini mengenai praktik keperawatan yang responsif terhadap perkembangan zaman.

Kombinasi antara warna-warna yang berani dengan simbol-simbol yang kuat seperti perpaduan antara garis-garis teknologi digital dan genggaman tangan yang hangat berhasil menciptakan sebuah narasi visual yang secara spontan mampu menggugah kesadaran siapa pun yang melihatnya tentang pentingnya keseimbangan antara inovasi dan kearifan lokal dalam praktik keperawatan modern.

Ketua Panitia Pelaksana HUT PPNI Ke-52, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pengurus Daerah PPNI setempat, menyampaikan bahwa kriteria penilaian dalam lomba poster kali ini difokuskan pada tiga aspek utama yaitu originalitas ide, kesesuaian dengan tema besar HUT PPNI, serta potensi pesan yang disampaikan untuk menginspirasi perubahan nyata di lingkungan pelayanan kesehatan.

Menurutnya, dari puluhan karya yang masuk, poster karya Gede Wahyu dari STIKES Buleleng berhasil menonjol karena kemampuannya dalam menyederhanakan isu kompleks mengenai transformasi digital di bidang keperawatan menjadi sebuah visual yang mudah dipahami oleh masyarakat awam sekaligus tetap kaya akan makna filosofis bagi para profesional.

Dewan juri yang terdiri dari para ahli komunikasi kesehatan, seni rupa, dan tokoh senior PPNI memberikan apresiasi tinggi terhadap keberanian Kadek Diah dan tim dalam mengangkat isu yang belum banyak dijamah oleh peserta lain, yakni mengenai perlindungan data pasien dalam era kecerdasan buatan yang masih menjadi perdebatan hangat di kalangan etika kesehatan nasional.

Karya tersebut dinilai mampu memberikan perspektif baru bahwa perawat tidak hanya berperan sebagai pemberi asuhan langsung di sisi tempat tidur pasien, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam menjaga martabat dan kerahasiaan pasien di tengah gempuran teknologi yang serba terbuka. Keberhasilan Kadek Diah dan tim dalam menyampaikan pesan kritis tersebut dengan cara yang tidak menggurui namun tetap mengedukasi menjadi salah satu faktor penentu yang membuat dewan juri sepakat memberikan posisi kedua kepada perwakilan dari Bali ini.

Sementara itu, Ketua STIKES Buleleng, Dr. Ns. I Made Sundayana, S.Kep., MSi., M.Kes., dalam sambutannya di kampus menyatakan bahwa prestasi yang diraih oleh ketiga mahasiswa ini merupakan bukti nyata dari komitmen institusi dalam mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara klinis tetapi juga kritis, kreatif, dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional.

Beliau menegaskan bahwa pencapaian ini harus menjadi pemantik semangat bagi seluruh mahasiswa STIKES Buleleng untuk terus berani berkarya dan menunjukkan bahwa institusi kesehatan dari daerah mampu bersaing dan bahkan mengungguli institusi-institusi besar dari kota-kota metropolitan yang selama ini dianggap lebih unggul dalam hal akses sumber daya.

Lebih lanjut, Dr. Sundayana menyoroti pentingnya peran dosen pembimbing yang senantiasa memberikan ruang eksplorasi dan pendampingan intensif kepada mahasiswa sehingga bakat-bakat terpendam dapat terasah dengan baik melalui berbagai kompetisi baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Dukungan penuh dari pihak kampus berupa fasilitas laboratorium komputer dengan spesifikasi tinggi serta akses tak terbatas ke jurnal ilmiah internasional juga menjadi faktor pendukung yang tidak bisa diabaikan dalam proses pembuatan poster yang sarat akan data dan referensi ilmiah tersebut.

 Ke depan, STIKES Buleleng berencana untuk menjadikan capaian ini sebagai bagian dari kurikulum pengayaan di mana mahasiswa akan didorong untuk menuangkan hasil penelitian atau studi kasus mereka ke dalam bentuk media poster yang dapat dipublikasikan secara luas sebagai bentuk diseminasi ilmu pengetahuan yang lebih inovatif dan mudah diakses oleh masyarakat umum.

Ni Kadek Diah Ayu Oktarina sendiri mengaku sangat bersyukur dan tidak menyangka bahwa karyanya dapat diapresiasi sebesar ini oleh dewan juri yang merupakan tokoh-tokoh berpengalaman di dunia keperawatan dan seni visual tanah air. Ia menceritakan bahwa momen paling berkesan baginya adalah ketika ia harus mempresentasikan ide di balik poster tersebut di hadapan para juri dan peserta lain, karena di situlah ia benar-benar diuji untuk membuktikan bahwa poster yang ia buat bukan sekadar kumpulan gambar dan kata-kata indah tanpa makna mendalam.

Keberanian tim untuk mengangkat nilai-nilai lokal Bali dalam ajang nasional ini ternyata menjadi nilai tambah tersendiri yang membuat karyanya terasa unik dan berbeda dari sekadar poster yang hanya menampilkan atribut keperawatan secara konvensional tanpa sentuhan identitas budaya yang kuat. Ia berharap bahwa kemenangan ini dapat menginspirasi rekan-rekan mahasiswa lainnya, terutama di kawasan Indonesia timur, untuk tidak pernah merasa inferior dan terus berkarya dengan mengangkat potensi serta kearifan lokal yang dimiliki sebagai kekuatan utama dalam setiap kompetisi yang mereka ikuti.

Keberhasilan meraih Juara 2 dalam Lomba Poster HUT PPNI Ke-52 ini secara otomatis membawa konsekuensi positif tidak hanya bagi Kadek Diah dan tim secara pribadi, tetapi juga bagi pengembangan kapasitas mahasiswa STIKES Buleleng secara kolektif. Sebagai bagian dari hadiah, seluruh mahasiswa mendapatkan uang pembinaan sebuah plakat penghargaan, serta kesempatan emas untuk mengikuti program dan lomba menarik lainnya yang akan diselenggarakan oleh PPNI.

Semua pihak di lingkungan kampus, mulai dari jajaran yayasan, dosen, hingga seluruh mahasiswa, turut merayakan capaian ini sebagai sebuah pencapaian kolektif yang menunjukkan bahwa sinergi antara bakat individu dan dukungan sistem pendidikan yang kondusif dapat menghasilkan sebuah prestasi gemilang yang membanggakan daerah.

Peringatan HUT PPNI Ke-52 yang mengusung tema besar tentang penguatan peran perawat dalam pembangunan kesehatan nasional ini diakhiri dengan serangkaian kegiatan ilmiah dan kompetisi lainnya, namun sorotan utama tertuju pada kemenangan yang diraih oleh STIKES Buleleng yang berhasil masuk dalam jajaran tiga besar kategori lomba poster.

Ke depan, diharapkan semakin banyak mahasiswa keperawatan dari berbagai daerah yang tidak hanya fokus pada pengembangan hard skill klinis semata, tetapi juga berani mengasah kemampuan soft skill seperti komunikasi visual, pemikiran kritis, dan keberanian untuk menyuarakan gagasan-gagasan transformatif melalui medium-medium kreatif seperti poster, esai, dan video pendek.

Dengan adanya regenerasi perawat yang tidak hanya terampil secara teknis tetapi juga kaya akan wawasan kebudayaan dan inovasi digital, maka cita-cita untuk mewujudkan Indonesia Sehat yang berkeadilan akan semakin mendekati kenyataan. Prestasi yang telah diraih oleh mahasiswa ini pada akhirnya menjadi sebuah narasi inspiratif bahwa semangat juang dan kualitas diri tidak pernah ditentukan oleh seberapa besar nama institusi atau seberapa terkenal lokasi geografis tempat kita belajar, melainkan ditentukan oleh seberapa dalam kita memahami panggilan jiwa untuk berkontribusi dan seberapa berani kita melangkah keluar dari zona nyaman untuk mengukir prestasi yang membanggakan.

KUI_humas

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian
Scroll to Top