Membuat Kripik Kelor dengan Dosen dan Mahasiswa Thailand

Kegiatan Workshop Moringa Powder dengan Dosen dan Mahasiswa Boromarajonani College of Nursing Suphanburi, Faculty of Nursing, Praboromarajchanok Institute, Ministry of Public Health, Thailand di Desa Penyaringan, Kecamatan Jembrana

Dalam sebuah inisiatif kolaboratif yang brilian dan penuh dengan nilai-nilai pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Buleleng bersama dengan delegasi akademik Thailand yang terdiri atas para dosen dan mahasiswa dari Boromarajonani College of Nursing Suphanburi serta Faculty of Nursing, Praboromarajchanok Institute, Ministry of Public Health, Thailand.  Kedua institusi menyelenggarakan workshop yang sangat unik dan aplikatif tentang pengolahan daun kelor menjadi produk tepung kelor (moringa powder) dan keripik kelor yang memiliki nilai gizi tinggi dan nilai ekonomis yang menjanjikan, yang berlangsung di Balai Desa Penyaringan, Kecamatan Jembrana, Bali.

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari program pertukaran akademik yang bertujuan untuk tidak hanya bertukar ilmu teoritis tetapi juga mengembangkan keterampilan praktis dalam pemanfaatan bahan alam untuk kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Workshop yang dihadiri oleh lebih dari 30 peserta yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Thailand, dosen dan mahasiswa STIKES Buleleng, kader PKK Desa Penyaringan, kelompok tani kelor di Desa Penyaringan, Kabupaten Jembrana. Workshop ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan merupakan implementasi nyata dari konsep one health yang mengintegrasikan aspek kesehatan, pertanian, dan ekonomi kreatif, dengan memanfaatkan tanaman kelor yang telah lama dikenal sebagai miracle tree karena kandungan gizinya yang luar biasa, namun belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat setempat.

 Melalui workshop ini diharapkan dapat membuka peluang baru untuk pengembangan produk kesehatan berbahan dasar lokal yang dapat meningkatkan pendapatan keluarga dan status gizi masyarakat. Acara yang dibuka  dengan format yang sangat interaktif dan hands-on, dimana seluruh peserta tidak hanya mendapatkan teori tentang manfaat kesehatan daun kelor yang kaya akan vitamin, mineral, dan antioksidan, tetapi juga secara langsung terlibat dalam seluruh proses produksi. Mulai dari pemetikan daun yang benar di kebun kelor, pencucian, pengeringan, penggilingan menjadi tepung, hingga pengolahan menjadi keripik kelor yang lezat dan bergizi, dengan menggunakan peralatan yang sederhana dan mudah didapatkan sehingga dapat direplikasi oleh setiap keluarga di rumah mereka masing-masing.

“Kegiatan workshop ini adalah bukti nyata bagaimana kerja sama internasional dapat menyentuh langsung kebutuhan masyarakat di tingkat desa, dengan menghadirkan teknologi tepat guna yang sederhana namun berdampak besar bagi peningkatan gizi dan ekonomi keluarga, sekaligus memperkenalkan kekayaan alam Indonesia kepada mitra internasional kami dari Thailand,” ujar Dr. Ns. I Made Sundayana, S.Kep., MSi., M.Kes., selaku Ketua STIKES Buleleng dalam sambutannya yang menekankan pentingnya transfer knowledge dan technology untuk kemandirian masyarakat.

Pada workshop dipandu oleh tim Penerima Hibah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi dari STIKES Buleleng, Bdn. Ni Made Karlina Sumiari Tangkas, S.ST., MH , yang mempresentasikan secara detail tentang kandungan gizi daun kelor yang sangat impressif, dimana daun kelor diketahui mengandung vitamin C tujuh kali lebih banyak daripada jeruk, kalsium empat kali lebih banyak daripada susu, potassium tiga kali lebih banyak daripada pisang, dan protein dua kali lebih banyak daripada yoghurt, sehingga tidak heran jika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan kelor sebagai superfood untuk memerangi malnutrisi di negara berkembang.

Bdn. Ni Made Karlina juga memaparkan hasil-hasil penelitian terbaru tentang manfaat kesehatan daun kelor dalam menurunkan tekanan darah, mengontrol gula darah, meningkatkan produksi ASI, serta memperkuat sistem imun, yang didukung dengan data-data ilmiah dan testimoni dari masyarakat yang telah merasakan manfaatnya, yang membuat para peserta dari Thailand sangat antusias dan banyak mengajukan pertanyaan tentang potensi aplikasi daun kelor dalam praktik keperawatan dan kesehatan masyarakat di Thailand.

“Daun kelor adalah hadiah alam yang sangat berharga yang sering kita abaikan, padahal dengan pengolahan yang tepat, kita dapat mengubahnya menjadi produk yang tidak hanya menyehatkan tetapi juga menghasilkan pendapatan tambahan yang signifikan bagi keluarga, terutama di daerah pedesaan dimana tanaman ini mudah tumbuh,” jelas Bdn. Ni Made Karlina dengan penuh semangat yang memicu keingintahuan besar dari para peserta.

Setelah sesi teori, para peserta dibagi menjadi lima kelompok kerja untuk memasuki sesi praktik yang dipandu oleh instruktur dari tim pengabdian masyarakat STIKES Buleleng yang telah berpengalaman dalam pengolahan kelor, dimana mereka diajarkan teknik seleksi daun kelor yang baik yaitu daun yang masih muda dan hijau segar, teknik pencucian yang hygienic untuk menghilangkan kotoran dan mikroba, serta teknik pengeringan yang benar dengan menggunakan oven bersuhu rendah atau sinar matahari langsung untuk mempertahankan kandungan gizinya.

Para dosen dan mahasiswa Thailand terlihat sangat antusias dan cermat dalam mengikuti setiap langkah, dengan banyak bertanya tentang detail teknis seperti suhu pengeringan optimal, kadar air yang diinginkan, dan metode penyimpanan yang tepat untuk mencegah penurunan kualitas, sambil secara aktif membantu masyarakat lokal dalam proses-proses tersebut, menciptakan dinamika kelompok yang sangat cair dan penuh semangat kolaborasi.

“Saya sangat terkesan dengan kesederhanaan teknologi yang digunakan namun sangat efektif dalam menghasilkan produk yang bernilai tinggi, dan ini adalah sesuatu yang sangat applicable untuk diterapkan di pedesaan Thailand dimana kami juga memiliki banyak tanaman kelor yang belum dimanfaatkan secara optimal,” ujar Dr. Pisit Poltana, Assistant to the President, Praboromarajchanok Institute, saat sedang membantu menata daun kelor di nampan pengering.

Proses berikutnya adalah penggilingan daun kelor kering menjadi tepung menggunakan mesin penggiling sederhana yang dapat dioperasikan secara manual atau dengan listrik, dimana para peserta belajar tentang pentingnya kehalusan tepung untuk aplikasi berbagai produk pangan, serta teknik pengayakan untuk mendapatkan konsistensi yang diinginkan dan pengemasan yang baik untuk memperpanjang masa simpan.

Tepung kelor yang dihasilkan kemudian digunakan untuk sesi demo masak oleh chef lokal yang memperlihatkan bagaimana tepung kelor dapat diincorporate ke dalam berbagai resep tradisional Bali maupun Thailand, seperti smoothies, sup, mie, dan kue, yang kemudian dicicipi bersama dan mendapatkan respons yang sangat positif dari semua peserta karena rasa yang enak dan nilai gizi yang tinggi.

 “Saya tidak pernah menyangka bahwa tepung kelor bisa selezat ini dan mudah digunakan dalam berbagai masakan, dan saya pasti akan membawa pulang resep-resep ini untuk saya bagikan kepada masyarakat di Thailand,” ujar Waristsara Sawangarcheep, mahasiswa Thailand, dengan antusias setelah mencoba minuman dan kripik kelor yang dibuat oleh anggota PKK.

Sesi paling dinanti adalah pembuatan keripik kelor, dimana peserta diajarkan teknik pembuatan adonan dari tepung kelor, tepung beras, dan bumbu-bumbu tradisional Bali seperti bawang putih, kencur, dan daun kucai, kemudian dicetak tipis-tipis dan digoreng dengan api kecil hingga garing dan renyah. Para peserta secara bergantian mencoba setiap tahapan, dari pengadukan adonan, pencetakan, hingga penggorengan, dengan dibimbing oleh instruktur yang berpengalaman, dan hasilnya adalah keripik kelor yang sangat gurih, bergizi, dan memiliki potensi pasar yang besar.

“Keripik kelor ini tidak hanya sehat tetapi juga sangat crispy dan flavorful, dan saya yakin produk ini akan sangat laku jika dipasarkan secara komersial, karena sekarang ini sedang tren healthy snack,” ujar Dr. Supaporn Voraroon sambil menikmati keripik hasil buatannya.

Workshop diakhiri dengan sesi business development yang dipandu oleh ahli kewirausahaan dari STIKES Buleleng, yang membahas aspek-aspek pemasaran, packaging, branding, dan akses permodalan untuk produk olahan kelor, dengan contoh sukses dari beberapa UMKM lokal yang telah berhasil mengembangkan bisnis berbasis kelor.

Para peserta dari Thailand berbagi pengalaman tentang model pemasaran produk kesehatan di Thailand, serta memberikan masukan tentang strategi untuk mengekspor produk kelor Indonesia ke pasar Thailand, yang membuka wawasan baru bagi masyarakat Desa Penyaringan.

 “Workshop hari ini telah membuka mata kami tentang potensi besar yang dimiliki oleh tanaman kelor yang selama ini tumbuh liar di pekarangan kami, dan dengan pengetahuan yang kami dapatkan hari ini, kami berkomitmen untuk membentuk kelompok usaha bersama untuk memproduksi tepung dan keripik kelor secara komersial,” ujar Ni Wayan Surti, ketua PKK Desa Penyaringan, dengan penuh semangat.

Acara ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama antara perwakilan Desa Penyaringan, STIKES Buleleng, dan delegasi Thailand untuk melanjutkan kerjasama dalam pengembangan produk olahan kelor, termasuk pertukaran resep, penelitian bersama tentang manfaat kesehatan kelor, dan program pemasaran bersama, sementara para peserta Thailand membawa pulang contoh produk tepung dan keripik kelor sebagai oleh-oleh dan bahan promosi di Thailand.

“Hari ini kita tidak hanya berbagi pengetahuan tentang pengolahan kelor, tetapi kita telah menanam benih kerjasama ekonomi yang akan tumbuh dan menguntungkan kedua belah pihak, sekaligus memperkuat persahabatan Indonesia-Thailand melalui pemberdayaan masyarakat,” tutup Dr. Ns. I Made Sundayana, S.Kep., MSi., M.Kes. dalam penutupan acara, yang disambut dengan tepuk tangan meriah dari semua peserta yang merasa termotivasi dan terinspirasi untuk mengembangkan desanya melalui pemanfaatan potensi lokal.

KUI_humas

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian
Scroll to Top