
Dalam sebuah acara akademik yang sangat dinantikan dan penuh dengan nilai-nilai keilmuan yang mendalam, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Buleleng telah berhasil menyelenggarakan kegiatan Research Presentation yang menampilkan para dosen terkemuka dan peneliti handal dari Boromarajonani College of Nursing Suphanburi serta Faculty of Nursing, Praboromarajchanok Institute, Ministry of Public Health, Thailand, yang merupakan puncak dari serangkaian kegiatan pertukaran akademik antara kedua institusi pendidikan kesehatan tersebut dan menjadi kesempatan emas bagi seluruh civitas akademika STIKES Buleleng untuk mendapatkan exposure terhadap perkembangan terkini dalam penelitian keperawatan dan kesehatan masyarakat di kawasan Asia Tenggara.
Presentasi penelitian yang berlangsung selama satu hari penuh di auditorium utama kampus yang dihadiri oleh lebih dari 300 peserta yang terdiri dari dosen, mahasiswa S1 dan S2, S3, ini tidak hanya menyajikan temuan-temuan ilmiah mutakhir tetapi juga membuka ruang diskusi yang sangat kritis dan konstruktif tentang berbagai isu strategis dalam bidang keperawatan, kesehatan komunitas, kebijakan kesehatan, dan inovasi pelayanan kesehatan yang relevan dengan konteks global maupun lokal.
Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Ketua STIKES Buleleng, Dr. Ns. I Made Sundayana, S.Kep., MSi., M.Kes., dengan menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas komitmen para dosen Thailand yang telah bersedia berbagi pengetahuan dan pengalaman penelitian mereka ini diharapkan dapat memicu gelora semangat penelitian di kalangan dosen dan mahasiswa STIKES Buleleng, serta menjadi katalisator untuk terciptanya kolaborasi penelitian internasional yang lebih intensif dan berkelanjutan di masa depan, terutama dalam menghadapi tantangan kesehatan pasca pandemi yang semakin kompleks dan multidimensional.
“Melalui forum akademik yang sangat prestisius ini, kita tidak hanya meneguhkan komitmen kita untuk advancing nursing science tetapi juga membangun jembatan pengetahuan yang akan menghubungkan para pemikir dan praktisi kesehatan dari Indonesia dan Thailand untuk bersama-sama berkontribusi dalam memecahkan masalah kesehatan global dengan pendekatan yang inovatif, evidence-based, dan culturally-sensitive,” tegas Dr. Sundayana dalam sambutannya yang penuh dengan inspirasi dan visioner.
Sesi pertama presentasi dipimpin oleh ASSISTANT PROF. DR. PISIT POLTANA, seorang pakar keperawatan komunitas yang sangat dihormati dari Praboromarajchanok Institute, yang mempresentasikan hasil penelitian longitudinal selama lima tahun terakhir tentang “Primary Care in Thailand: Implementation and Alignment with the PBRI Model”, yang menginvestigasi secara komprehensif bagaimana pendekatan partisipatif yang melibatkan masyarakat secara aktif dalam identifikasi masalah dan perencanaan intervensi kesehatan dapat secara signifikan mengurangi kesenjangan kesehatan pada kelompok khusus di Thailand.

Dr. Pisit Poltana dengan sangat elegan memaparkan bagaimana model PBRI yang dikembangkan timnya berhasil memberdayakan kader kesehatan lokal, mengintegrasikan pengetahuan tradisional dengan evidence-based practice, dan menciptakan sustainable health governance yang dipimpin oleh komunitas sendiri, yang menuai decak kagum dan pertanyaan-pertanyaan mendalam dari para audiens yang tertarik untuk mengadopsi model serupa di Bali.
“Kunci keberhasilan intervensi kesehatan di komunitas yang memiliki keragaman budaya yang tinggi adalah humility, respect, dan kesediaan kita untuk belajar dari masyarakat itu sendiri, karena merekalah yang paling memahami konteks dan kebutuhan mereka, dan peran kita sebagai tenaga kesehatan adalah menjadi fasilitator dan katalisator daripada sekedar provider of services,” jelasnya dalam menanggapi pertanyaan dari seorang dosen STIKES Buleleng tentang strategi mengatasi resistensi budaya.
Sesi kedua menghadirkan ASSISTANT PROF. JANCHAI MANEEWONG, seorang ahli keperawatan gerontologi dari Boromarajonani College of Nursing Suphanburi, yang membawakan presentasi yang sangat touching dan insightful tentang “Rehabilitation in Stroke Patients in Primary Care In Thailand Using the PBRI Model”, yang mengeksplorasi pemanfaatan teknologi telehealth yang low-cost dan user-friendly untuk memantau kesehatan lansia dengan penyakit kronis di daerah pedesaan Thailand yang memiliki keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan.

Penelitian yang didanai oleh Kementerian Kesehatan Thailand ini mengembangkan sebuah platform telehealth yang terintegrasi dengan perangkat mobile sederhana yang dapat mengukur tekanan darah, gula darah, dan saturasi oksigen, serta dilengkapi dengan fitur video consultation dengan perawat dan reminder untuk minum obat, yang terbukti secara signifikan meningkatkan adherence pengobatan, mengurangi frekuensi rawat inap, dan meningkatkan kualitas hidup lansia peserta penelitian.
Dr. Janchai Maneewong mempresentasikan data yang sangat detail tentang proses adaptasi teknologi untuk lansia yang menderita gangguan kesehatan jangka panjang, dalam hal ini pasien stroke yang memicu diskusi yang sangat hidup tentang aplikabilitas model serupa di daerah pedesaan Bali yang juga menghadapi masalah serupa dalam pelayanan kesehatan lansia. Banyak pertanyaan yang diajukan mengenai aspek teknis, ethical considerations, dan sustainability model, yang dijawab dengan sangat memuaskan oleh Dr. Janchai Maneewong berdasarkan pengalaman empirisnya selama melakukan penelitian tersebut.
Acara research presentation ini diakhiri dengan panel discussion yang dimoderatori oleh Dr. Ns. I Wayan Antariksawan, S.Kep., MAN., DNM. selaku Kepala Kantor Urusan Internasional STIKES Buleleng, dimana seluruh pembicara duduk bersama untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan audiens dan merumuskan rekomendasi untuk agenda penelitian kolaboratif Indonesia-Thailand ke depan, yang menghasilkan komitmen untuk membentuk joint research consortium yang akan fokus pada tiga area prioritas: digital health in nursing, culturally-competent care, dan health equity for marginalized populations.
Seluruh peserta meninggalkan auditorium dengan kepala penuh ide baru, hati penuh inspirasi, dan semangat baru untuk berkontribusi lebih besar lagi dalam dunia penelitian keperawatan, sementara para dosen Thailand menyatakan kekaguman mereka pada engagement dan depth of questions yang ditunjukkan oleh audiens Indonesia. Hal ini menunjukkan tingginya minat dan kapasitas penelitian di STIKES Buleleng.
“Hari ini bukan akhir, tapi awal dari sebuah partnership yang akan menghasilkan banyak meaningful research yang tidak hanya dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional sehingga dapat membuat perbedaan nyata dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan Thailand,” tutup Dr. Sundayana dalam penutupan acara, yang disambut dengan standing applause dari seluruh hadiran yang termotivasi dan terhormat dapat menjadi bagian dari momen bersejarah ini.
KUI_humas