TEKEN MOU! STIKES BULELENG LEPAS 86 MAHASISWA KKN IPC, TERBANYAK DITERIMA DESA TEMBOK

STIKES Buleleng kembali mencatatkan tonggak bersejarah dalam implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan resmi menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) bersama Pemerintah Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, sekaligus melepas sebanyak 86 mahasiswa untuk melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata Interprofesional Collaboration (KKN IPC) yang menjadikan Desa Tembok sebagai lokasi dengan jumlah peserta terbanyak dibandingkan desa-desa binaan lainnya pada periode tahun 2026 ini.

Penandatanganan MoU yang berlangsung di Aula Kantor Desa Bukti, Desa Bungkulan, ini menjadi simbol komitmen kuat kedua belah pihak dalam membangun sinergi strategis di bidang kesehatan, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan potensi desa yang selama ini dikenal memiliki kekayaan budaya dan keindahan alam pesisir utara Bali namun masih menghadapi tantangan akses layanan kesehatan yang merata bagi seluruh warganya.

Ketua STIKES Buleleng, Dr. Ns. I Made Sundayana, S.Kep., M.Si., M.Kes., dalam sambutannya pada acara pelepasan yang berlangsung khidmat tersebut menyampaikan bahwa jumlah 86 mahasiswa yang diterjunkan ke Desa Tembok merupakan angka tertinggi dibandingkan dengan penempatan di desa-desa lain pada program KKN IPC tahun ini, sebuah pencapaian yang menunjukkan besarnya kepercayaan dan kebutuhan masyarakat Tembok akan intervensi kesehatan yang komprehensif dan berkelanjutan dari para tenaga kesehatan masa depan.

Lebih lanjut, Ketua STIKES Buleleng menegaskan bahwa program KKN IPC yang mengusung konsep kolaborasi antar profesi kesehatan ini melibatkan mahasiswa dari berbagai program studi unggulan, yakni S1 Keperawatan, S1 Kebidanan, dan S1 Farmasi, yang akan bekerja secara terintegrasi untuk memberikan pelayanan kesehatan yang holistik, mulai dari promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif, sehingga masyarakat Desa Tembok dapat merasakan manfaat nyata dari kehadiran para mahasiswa yang telah dibekali dengan kompetensi akademik dan keterampilan praktis selama di bangku kuliah.

Kepala Desa Tembok, Dewa Ketut Willy Asmawan yang turut hadir dalam acara penandatanganan MoU dan pelepasan mahasiswa tersebut menyambut antusias program KKN IPC yang untuk pertama kalinya menempatkan mahasiswa STIKES Buleleng dalam jumlah yang sangat signifikan di wilayahnya, mengingat sebelumnya berbagai institusi juga pernah menempatkan mahasiswa KKN di Desa Tembok, namun belum pernah dengan jumlah peserta sebanyak 86 orang sekaligus.

Menariknya, Desa Tembok yang terletak di Kecamatan Tejakula ini bukanlah desa biasa, karena pada tahun 2025 desa ini berhasil meraih penghargaan bergengsi sebagai Juara I Tingkat Nasional dalam ajang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang digagas oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi bersama Kementerian Ketenagakerjaan RI, sebuah prestasi yang membuktikan bahwa desa ini memiliki potensi besar dan tata kelola pemerintahan desa yang sudah cukup maju.

Para mahasiswa yang akan bertugas selama kurang lebih satu bulan penuh di Desa Tembok ini telah melalui serangkaian pembekalan intensif yang diberikan oleh Ketua Panitia KKN IPC 2026, Ni Made Raningsih, S.Pd., M.Si, yang merupakan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Buleleng, di mana mereka dibekali dengan berbagai keterampilan teknis, komunikasi antarbudaya, serta pemahaman mendalam tentang kondisi geografis dan sosiokultural masyarakat pesisir utara Bali yang sebagian besar menggantungkan hidup pada sektor perikanan dan pariwisata.

Program-program unggulan yang akan dijalankan oleh 86 mahasiswa di Desa Tembok mencakup berbagai intervensi kesehatan strategis seperti penyuluhan gizi dan pencegahan stunting yang masih menjadi permasalahan serius di wilayah Buleleng timur, skrining penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes melitus, pelatihan kader kesehatan posyandu, pengembangan tata kelola sampah berbasis sumber, tanaman obat keluarga hingga kampanye perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat dari anak-anak hingga lanjut usia.

Tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan fisik semata, mahasiswa KKN IPC STIKES Buleleng juga akan menginisiasi program layanan komplementer, pemberdayaan mental dan sosial melalui pembentukan kelompok dukungan sebaya bagi ibu hamil dan ibu menyusui, serta edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja yang bertujuan menekan angka pernikahan dini dan kehamilan tidak diinginkan yang masih cukup tinggi di daerah pesisir.

Kolaborasi erat dengan pemerintah desa, puskesmas setempat, tokoh masyarakat, serta kader kesehatan menjadi kunci sukses program ini, karena tanpa dukungan penuh dari seluruh elemen masyarakat, berbagai intervensi kesehatan yang telah dirancang dengan matang oleh para mahasiswa akan sulit untuk memberikan dampak yang berkelanjutan setelah masa KKN berakhir.

Lebih lanjut, koordinator KKN IPC STIKES Buleleng Bdn. Lina Anggaraeni Dwijayanti, S.ST., M.Kes. yang turut mendampingi para mahasiswa selama persiapan hingga pelaksanaan di lapangan menyatakan bahwa pemilihan Desa Tembok sebagai lokasi dengan kuota terbanyak didasarkan pada hasil kajian mendalam yang menunjukkan tingginya kebutuhan intervensi kesehatan di desa tersebut, terutama terkait dengan prevalensi stunting yang mencapai lebih dari 20 persen berdasarkan data pendataan yang dilakukan oleh institusi kesehatan sebelumnya.

Dengan diterjunkanannya 86 mahasiswa dari tiga program studi sekaligus, diharapkan pendekatan interprofesional yang menjadi ciri khas KKN IPC dapat berjalan secara optimal, di mana mahasiswa keperawatan akan fokus pada asuhan keperawatan langsung dan manajemen kasus, mahasiswa kebidanan akan mengutamakan pelayanan kesehatan ibu dan anak, sementara mahasiswa farmasi akan berkontribusi dalam edukasi penggunaan obat yang rasional serta pengembangan produk kesehatan berbasis bahan alam yang melimpah di wilayah pesisir.

Acara penandatanganan MoU dan pelepasan 86 mahasiswa KKN IPC ini turut dihadiri oleh sejumlah pejabat penting lainnya seperti Kaprodi S1 Kebidanan, Kaprodi Profesi Ners yang mewakili Prodi S1 Keperawatan, Kaprodi S1 Farmasi, serta para dosen pembimbing lapangan yang akan mendampingi mahasiswa selama menjalankan tugas pengabdian di Desa Tembok, sehingga menunjukkan bahwa seluruh civitas akademika STIKES Buleleng memberikan dukungan penuh terhadap program kolaboratif yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Bali Utara ini.

Melalui penandatanganan MoU yang telah dilakukan, diharapkan hubungan kemitraan antara STIKES Buleleng dan Pemerintah Desa Tembok tidak berhenti pada satu periode KKN saja, melainkan akan terus berlanjut dalam berbagai program pengabdian masyarakat lainnya, penelitian bersama, serta magang mahasiswa yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Desa Tembok secara berkelanjutan.

Dengan dilepaskannya 86 mahasiswa yang merupakan jumlah terbanyak di Desa Tembok ini, STIKES Buleleng semakin mengukuhkan posisinya sebagai institusi pendidikan tinggi kesehatan yang tidak hanya unggul dalam mencetak tenaga kesehatan profesional, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap permasalahan kesehatan masyarakat di sekitarnya.

Ke depannya, program KKN IPC ini diharapkan dapat menjadi model bagi perguruan tinggi kesehatan lainnya dalam mengintegrasikan pendidikan akademik dengan pengabdian masyarakat yang berbasis pada kebutuhan riil dan kearifan lokal, sehingga setiap intervensi yang dilakukan benar-benar membawa perubahan positif yang dirasakan langsung oleh masyarakat, sebagaimana yang telah menjadi visi dan misi STIKES Buleleng dalam mencetak lulusan yang kompeten, humanis, dan berdedikasi tinggi terhadap bangsa dan negara.

KUI_humas

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
Scroll to Top