EDUKASI HIV/AIDS SISWA SMKN BALI MANDARA, STIKES BULELENG GANDENG MAHASISWA WINDESHEIM UNIVERSITY, BELANDA

Sebanyak 120 siswa kelas X-XI SMKN Bali Mandara yang berlokasi di kawasan pesisir Kubutambahan, Buleleng, mendapatkan edukasi interaktif mengenai pencegahan dan penanganan HIV/AIDS melalui program kolaborasi internasional antara STIKES Buleleng dan mahasiswa dari Windesheim University, Belanda, pada Jumat pekan lalu.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Serbaguna sekolah tersebut bertujuan untuk membangun kesadaran dini di kalangan remaja tentang bahaya virus mematikan yang hingga kini masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam dunia kesehatan global.

Mahasiswa dari kedua institusi tidak hanya memberikan materi teoretis di dalam ruangan tetapi juga merancang simulasi berbasis permainan peran yang menarik sehingga siswa tidak merasa digurui, melainkan diajak berdialog setara.

Kolaborasi ini menjadi momen bersejarah bagi SMKN Bali Mandara karena untuk pertama kalinya siswa sekolah menengah kejuruan di daerah terpencil ini berkesempatan belajar langsung dari mahasiswa internasional yang membawa perspektif kesehatan dari Eropa.

Dengan metode yang interaktif dan penuh empati, para siswa diajak untuk menghilangkan stigma negatif terhadap penderita HIV/AIDS serta memahami bahwa orang dengan HIV/AIDS (ODHA) berhak mendapatkan perlakuan layak dan dukungan penuh dari lingkungan sekitarnya.

Lebih lanjut, koordinator kegiatan dari STIKES Buleleng selaku mentor Mahasiswa Belanda, Dr. Ns. I Wayan Antariksawan, S.Kep., MAN., DNM. menjelaskan bahwa pemilihan SMKN Bali Mandara sebagai lokasi edukasi didasari oleh tingginya angka mobilitas siswa yang berasal dari berbagai daerah di Bali, termasuk daerah dengan kurang tingkat pengetahuan tentang HIV/AIDS.

Menurutnya, para siswa berada dalam fase rentan terhadap pergaulan bebas dan penyalahgunaan narkoba jarum suntik yang menjadi salah satu jalur utama penularan HIV jika tidak dibekali informasi yang benar sejak dini. Ia menambahkan bahwa kolaborasi dengan Windesheim University telah dipersiapkan selama enam bulan melalui serangkaian pertemuan daring dan pertukaran modul edukasi yang disesuaikan dengan budaya lokal Bali.

Sementara itu, perwakilan mahasiswa Windesheim, Kim Zandstra, Nora Hietland, Marcha van Petersen mengungkapkan bahwa dirinya sangat terkesan dengan antusiasme siswa SMKN Bali Mandara yang tidak malu bertanya tentang mekanisme penularan HIV melalui hubungan seksual tanpa pengaman.

Para mahasiswa Belanda juga membawa pengalaman sukses dari program edukasi serupa di sekolah-sekolah Amsterdam, yang kemudian diadaptasi dengan menggunakan alat peraga seperti kondom demonstrasi dan kartu bergambar yang mudah dipahami remaja.

Selama dua hari pelaksanaan, kegiatan dibagi menjadi tiga sesi utama yaitu sesi pemutaran film pendek dokumenter perjuangan ODHA di Belanda, sesi diskusi kelompok kecil dengan fasilitator campuran Indonesia-Belanda, serta sesi drama interaktif di mana siswa diminta untuk memerankan sikap menolong teman yang terinfeksi HIV.

Hasil dari pre-test dan post-test yang diberikan oleh tim menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa dari rata-rata 45 persen menjadi 87 persen tentang fakta bahwa HIV tidak menular melalui sentuhan, berbagi makanan, atau penggunaan kolam renang bersama.

Salah satu siswa mengaku awalnya takut jika harus berdekatan dengan ODHA, tetapi setelah simulasi dan penjelasan dari mahasiswa Belanda, ia kini paham bahwa dukungan moral dan pengobatan rutin antiretroviral dapat membuat ODHA hidup normal hingga puluhan tahun.

Para siswa pun dibekali dengan informasi layanan konseling HIV/AIDS di Kabupaten Buleleng serta tautan ke layanan tes HIV gratis yang dikelola oleh Dinas Kesehatan setempat.

Tidak hanya berhenti pada edukasi kepada siswa, rombongan kolaborasi juga mengadakan pelatihan singkat bagi guru-guru BK dan UKS SMKN Bali Mandara tentang bagaimana menjadi pendamping yang ramah bagi siswa yang mungkin memiliki keluarga atau teman dengan HIV/AIDS.

Pelatihan ini dipandu oleh dosen STIKES Buleleng bersama mahasiswa Windesheim yang memiliki latar belakang psikologi kesehatan, sehingga para guru dilatih teknik konseling dasar dan cara merujuk kasus ke layanan kesehatan yang kompeten.

Wakil Kepala SMKN Bali Mandara, Kerap disapa Bapak Teddy dalam sambutan penutup mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena kolaborasi ini telah membuka wawasan tidak hanya bagi siswa tetapi juga bagi para pendidik yang selama ini merasa canggung membahas HIV/AIDS secara terbuka.

Ia berharap program serupa dapat dilakukan secara rutin setiap tahun dan bahkan diperluas ke sekolah-sekolah lain di Buleleng utara yang akses informasinya masih sangat terbatas. Pihak sekolah pun berkomitmen untuk membentuk kader kesehatan remaja yang akan menyebarkan informasi anti-stigma HIV/AIDS kepada teman-teman sebaya secara berkelanjutan.

Sebagai penutup, kegiatan kolaborasi ini diakhiri dengan penandatanganan nota kesepahaman antara STIKES Buleleng dan SMKN Bali Mandara untuk menjadi mitra tetap dalam program pengabdian masyarakat bertema kesehatan remaja setiap semester ganjil.

Selain itu, mahasiswa Windesheim University yang telah menghabiskan waktu 4 bulan di Bali juga mendapatkan pengalaman belajar lintas budaya yang tak ternilai karena mereka diajak memahami bahwa edukasi HIV/AIDS di negara berkembang memerlukan pendekatan yang lebih peka terhadap nilai agama dan adat istiadat setempat.

Kedua institusi berencana untuk menulis hasil kegiatan ini dalam jurnal internasional tentang pendidikan kesehatan lintas budaya sebagai bentuk dokumentasi akademik sekaligus promosi model kolaborasi yang efektif.

Dengan adanya sinergi lintas benua seperti ini, diharapkan generasi muda Indonesia semakin terlindungi dari ancaman HIV/AIDS dan tumbuh menjadi pribadi yang inklusif serta berpengetahuan tinggi.

KUI_humas

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
Scroll to Top