
Dalam upaya nyata untuk memperkuat sinergi antara institusi pendidikan tinggi dengan pemerintah daerah dalam rangka mendorong program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik yang lebih berdampak dan terukur, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Buleleng, Ni Made Raningsih, S.Pd., M.Si., dengan penuh antusiasme menghadiri undangan resmi dari Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali.
Pertemuan yang berlangsung dari pukul 10.00 hingga 12.00 WITA ini tidak hanya sekadar ajang silaturahmi, melainkan sebuah forum diskusi mendalam yang membahas tentang bagaimana model KKN Tematik dapat diselaraskan dengan peta jalan riset dan inovasi daerah yang telah disusun oleh pemerintah provinsi untuk periode tahun 2025 hingga 2030.
Kehadiran Kepala LPPM STIKES Buleleng dalam undangan tersebut merupakan bentuk komitmen nyata bahwa perguruan tinggi di bidang kesehatan ini siap menjadi mitra aktif dalam menjawab berbagai persoalan pembangunan yang ada di masyarakat, terutama yang berkaitan dengan sektor kesehatan, pencegahan stunting, dan pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal.
Lebih dari sekadar formalitas, undangan dari BRIDA Provinsi Bali ini menjadi momentum penting bagi STIKES Buleleng untuk menunjukkan bahwa program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh mahasiswa tidak boleh berjalan sendiri tanpa adanya data, riset, dan inovasi yang terintegrasi dengan kebijakan daerah.
Dengan demikian, jembatan kolaborasi antara dunia akademisi dan birokrasi pembangunan di Bali dapat tercipta secara lebih harmonis, efektif, dan berkelanjutan, yang pada akhirnya akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas.
Pertemuan yang dipimpin langsung oleh Kepala BRIDA Provinsi Bali, Dr. Ketut Wica, S.Sos, M.H., beserta jajaran analis kebijakan riset dan inovasi daerah tersebut, mengupas secara rinci tentang bagaimana pola pelaksanaan KKN Tematik selama ini masih banyak yang bersifat seremonial dan kurang menyentuh akar permasalahan prioritas daerah.
Menurut data yang dipaparkan oleh tim BRIDA, setidaknya ada tujuh isu strategis pembangunan Provinsi Bali saat ini yang membutuhkan intervensi langsung dari perguruan tinggi, antara lain transformasi digital di desa, pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular, pengembangan tanaman obat keluarga (TOGA) terpadu, serta penanganan masalah kesehatan reproduksi remaja di kawasan pariwisata.
Dr. Ketut Wica, S.Sos, M.H., dalam paparannya di hadapan 25 peserta yang hadir dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Bali, menegaskan bahwa STIKES Buleleng telah mempersiapkan sebanyak 150 mahasiswa untuk diterjunkan dalam KKN Tematik periode Juli hingga September 2026 dengan fokus utama pada intervensi pencegahan stunting dan peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat di beberapa desa binaan di Kabupaten Buleleng.
Kepala LPPM STIKES Buleleng juga menyampaikan bahwa pihaknya sangat terbuka untuk melakukan sinkronisasi kurikulum dan desain kegiatan KKN dengan peta jalan riset BRIDA, karena hal ini akan memperkuat luaran dari program tersebut berupa data ilmiah yang dapat digunakan sebagai bahan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah.
Respon positif langsung ditunjukkan oleh Kepala BRIDA yang mengapresiasi kesiapan STIKES Buleleng dalam hal pendataan awal potensi desa, pelatihan mahasiswa, hingga mekanisme monitoring evaluasi berbasis indikator kinerja yang terukur, sehingga kegiatan KKN tidak berakhir begitu saja setelah mahasiswa selesai bertugas.
Suasana diskusi berlangsung sangat hangat dan konstruktif, dengan kedua belah pihak sepakat untuk segera membentuk tim kerja kecil yang akan menyusun buku panduan teknis pelaksanaan KKN Tematik Berbasis Riset dan Inovasi Daerah yang dapat dijadikan rujukan bagi seluruh perguruan tinggi di Provinsi Bali.
Tidak hanya membahas tentang teknis pelaksanaan KKN di lapangan, pertemuan tersebut juga menyoroti pentingnya sistem pendokumentasian dan publikasi hasil dari setiap program yang dilakukan oleh mahasiswa sebagai bentuk pertanggungjawaban moral dan intelektual kepada masyarakat dan pemerintah.
Kepala BRIDA Provinsi Bali, Dr. Ketut Wica, S.Sos, M.H., dalam sambutannya menjelaskan bahwa selama ini salah satu kelemahan utama dari berbagai program KKN yang pernah ada adalah minimnya dokumentasi yang sistematis dan sulitnya mengakses data hasil pengabdian untuk kemudian ditindaklanjuti oleh dinas teknis terkait, sehingga banyak potensi desa yang terlewatkan begitu saja.
Melalui kolaborasi dengan STIKES Buleleng, BRIDA berharap dapat menciptakan sebuah model percontohan KKN Tematik yang tidak hanya menghasilkan laporan tebal yang tersimpan di rak perpustakaan, tetapi juga menghasilkan publikasi ilmiah, kebijakan berbasis bukti, serta produk inovasi yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat.
Lebih lanjut, pertemuan ini juga menyepakati bahwa setiap akhir periode KKN, akan diselenggarakan sebuah “Rakor Riset dan Inovasi Desa” yang melibatkan perangkat desa, kepala puskesmas, serta perwakilan mahasiswa untuk mempresentasikan hasil temuan lapangan dan rekomendasi kebijakan kepada pimpinan daerah.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala LPPM STIKES Buleleng juga menyoroti tentang perlunya insentif dan pengakuan akademik bagi mahasiswa yang berhasil menghasilkan inovasi nyata selama KKN, misalnya dengan mengkonversi luaran KKN menjadi skripsi atau publikasi jurnal nasional terakreditasi.
Menurut Dr. Ketut Wica, S.Sos, M.H., dosen pembimbing lapangan juga harus didorong untuk melakukan riset kecil berbasis masalah yang ditemukan mahasiswa di desa sehingga terjadi proses pembelajaran timbal balik antara mahasiswa, dosen, dan masyarakat yang berkelanjutan.
Sebagai tindak lanjut dari pertemuan ini, BRIDA Provinsi Bali berencana untuk mengundang seluruh Kepala LPPM dari perguruan tinggi yang ada di Bali pada bulan Juni 2026 untuk mengikuti sosialisasi penyusunan grand design KKN Tematik yang terintegrasi dengan rencana pembangunan jangka menengah daerah.
Sementara itu, STIKES Buleleng diminta untuk menjadi salah satu pilot project dalam implementasi model kolaborasi ini, dengan target menghasilkan setidaknya tiga kebijakan desa atau rekomendasi teknis untuk Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng berdasarkan hasil riset mahasiswa di lapangan.
Dengan langkah nyata yang telah dirintis ini, diharapkan program KKN tidak lagi dipandang sebagai kegiatan seremonial wajib yang membebani mahasiswa, tetapi berubah menjadi sebuah gerakan intelektual kolektif yang mampu mendorong perubahan sosial yang terencana, sistematis, dan berbasis pada kebutuhan riil masyarakat Bali yang terus berkembang.
Acara yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam ini ditutup dengan foto bersama dan janji untuk segera merealisasikan pertemuan teknis lanjutan pada pekan ketiga bulan Mei 2026, yang akan dihadiri oleh perwakilan desa binaan serta para kepala puskesmas yang menjadi mitra lapangan STIKES Buleleng.
Dengan semangat kolaborasi yang telah terbangun ini, publik menanti bukti nyata bahwa program KKN Tematik ke depan akan membawa angin segar bagi desa-desa di Bali, terutama dalam upaya percepatan penurunan angka stunting, peningkatan akses layanan kesehatan primer, serta penguatan ketahanan masyarakat melalui inovasi-inovasi sederhana namun berdampak luas.
Kepala LPPM STIKES Buleleng pun mengajak seluruh sivitas akademika, terutama mahasiswa yang akan melaksanakan KKN, untuk mulai mempersiapkan diri dengan membaca berbagai data pembangunan desa yang telah tersedia di portal resmi BRIDA Provinsi Bali.
Dengan langkah kecil yang dimulai dari pertemuan ini, diharapkan akan lahir ribuan ide dan aksi nyata dari generasi muda yang peduli terhadap masa depan Bali yang lebih sehat, cerdas, dan berbudaya, tanpa meninggalkan akar lokal dan kearifan tradisional yang telah menjadi identitas Pulau Dewata.
KUI_humas