Perbanyak Kegiatan Globalisasi, STIKES Buleleng Hadirkan Ahli Linguistik dari Filipina

Dalam rangka mempercepat dan memperdalam arus globalisasi di lingkungan akademik serta mempersiapkan lulusan yang siap bersaing di kancah internasional, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Buleleng mengambil langkah strategis dan konkret dengan menghadirkan seorang ahli linguistik dan komunikasi antarbudaya ternama asal Filipina, Prof. Dr. Teofilo B. Damoco, untuk menyelenggarakan serangkaian workshop intensif dan kuliah umum selama 3 hari penuh.

Kehadiran Prof. Damoco, yang merupakan Guru Besar Emeritus di Departemen Linguistik Union Christian College (UCC) Filipina dengan pengalaman mengajar di beberapa negara, bukan sekadar agenda rutin melainkan sebuah investasi besar dalam membangun kompetensi global para mahasiswa dan dosen, khususnya dalam hal penguasaan Bahasa Inggris medis dan kemampuan komunikasi efektif yang menjadi kunci sukses di era kolaborasi kesehatan internasional.

Program kolaborasi internasional yang digagas langsung oleh Kantor Urusan Internasional (KUI) STIKES Buleleng ini dirancang secara khusus untuk menciptakan sebuah lompatan kualitas dalam proses pembelajaran, di mana peserta tidak hanya diajarkan tata bahasa dan kosakata namun juga dibenamkan dalam konteks kultural sehingga mereka dapat berinteraksi dengan percaya diri bersama pasien atau rekan kerja dari latar belakang negara yang berbeda.

“Ini adalah wujud nyata dari komitmen kami untuk mentransformasi STIKES Buleleng menjadi institusi pendidikan kesehatan yang berkelas dunia, di mana para calon tenaga kesehatan kita tidak hanya unggul secara teknis klinis tetapi juga memiliki kecakapan komunikasi lintas batas yang andal, sehingga mereka dapat mengambil peran lebih besar di organisasi kesehatan global seperti WHO ataupun ketika menempuh karir di rumah sakit internasional,” tegas Direktur STIKES Buleleng, Dr. Ns. I Made Sundayana, S.Kep., MSi., M.Kes., dalam sambutan pembukaannya yang penuh semangat di STIKES Buleleng Convention Center (SBCC) Kampus 1 STIKES Buleleng.

“Bahasa Inggris dalam konteks medis bukanlah sekadar terjemahan dari bahasa Indonesia, melainkan sebuah ekosistem komunikasi yang memiliki nuansa, etika, dan presisi tersendiri yang jika tidak dipahami dengan baik justru dapat berpotensi menimbulkan malpraktek atau kesalahan diagnosis yang sangat fatal bagi keselamatan pasien,” ujar Prof. Reyes dengan penuh penekanan di depan para peserta yang menyimak dengan khidmat.

Lebih jauh lagi, ahli linguistik yang pernah menjadi konsultan untuk beberapa rumah sakit internasional di kawasan Asia Tenggara ini memberikan contoh konkret bagaimana perbedaan pemahaman kultural terhadap ekspresi rasa sakit, di mana pasien dari budaya tertentu mungkin hanya mengeluh ‘sedikit tidak nyaman’ padahal yang sebenarnya dirasakan adalah sakit yang sangat hebat, sehingga memerlukan kepekaan ekstra dari tenaga kesehatan untuk menggali informasi lebih dalam.

Banyak studi kasus nyata tentang kesalahan komunikasi dalam setting rumah sakit internasional dibedah secara detail selama sesi berlangsung, membuat para peserta menyadari betapa kritikalnya penguasaan linguistik terapan ini dan betapa langkah STIKES Buleleng untuk mendatangkan pakar langsung dari Filipinansebuah negara dengan penggunaan Bahasa Inggris yang sangat luas dalam sistem pendidikannyanmerupakan sebuah terobosan yang sangat visioner.

“Saya merasa seperti dibukakan pintu baru yang sangat luas, selama ini kami belajar Bahasa Inggris umum tapi hari ini saya benar-benar memahami bagaimana menerapkannya secara spesifik untuk menulis laporan perkembangan pasien yang akurat atau berkomunikasi dengan tim medis asing dalam situasi gawat darurat,” ungkap salah satu mahasiswa program studi Ners yang berhasil aktif berinteraksi selama sesi tanya jawab.

Pada hari kedua, fokus workshop bergeser kepada topik yang tak kalah pentingnya, yakni “Academic Writing and Publishing in Reputable International Health Journals”, yang secara khusus ditujukan untuk meningkatkan kapasitas dan produktivitas para dosen dan peneliti muda di STIKES Buleleng dalam menghasilkan karya tulis ilmiah yang memenuhi standar internasional.

Prof. Damoco, yang juga menjabat sebagai editor tamu di beberapa jurnal kesehatan terindeks Scopus, dengan sangat detail dan sabar memaparkan rahasia di balik artikel penelitian yang mampu melewati proses review yang ketat, mulai dari teknik merangkai abstrak yang powerful, merumuskan latar belakang masalah yang convincing, menyajikan metodologi dengan jelas, hingga mendiskusikan hasil temuan dengan perspektif yang orisinal dan kontributif.

“Banyak penelitian berkualitas dari Indonesia yang akhirnya ditolak oleh jurnal internasional bukan karena substansi ilmiahnya yang buruk, melainkan karena masalah bahasa, alur logika yang tidak runtut, serta ketidaktahuan terhadap ‘cultural expectation’ atau harapan kultural dari para reviewer yang mayoritas berasal dari Barat,” paparnya sambil menampilkan contoh-contoh kalimat sebelum dan setelah direvisi yang secara dramatis mengubah kualitas sebuah naskah.

Dalam sesi ini, para peserta diajak untuk melakukan praktik langsung merevisi draft artikel mereka sendiri berdasarkan masukan dan framework yang diberikan, sehingga mereka tidak hanya memahami teori di permukaan tetapi benar-benar merasakan proses peningkatan kualitas tulisan mereka secara real-time di bawah bimbingan seorang ahli.

Dr. Ns. I Dewa Ayu Rismayanti, S.Kep., M.Kep., salah seorang dosen senior, mengaku mendapatkan pencerahan yang sangat berarti, “Selama ini saya sering bingung mengapa revisi dari reviewer selalu berputar-putar pada masalah phrasing dan clarity, ternyata setelah dibimbing langsung oleh Prof. Reyes saya baru paham betapa pentingnya menggunakan ‘signposting language’ untuk memandu pembaca melalui argumentasi ilmiah kita dengan lebih terstruktur.”

Prof. Damoco dengan luwes memaparkan bagaimana tenaga kesehatan Indonesia, dengan kekayaan budaya dan nilai-nilai kearifan lokalnya yang kuat, sebenarnya memiliki modal dasar yang sangat bagus untuk menjadi pemain global asalkan dilengkapi dengan alat komunikasi yang tepat dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman. “Globalisasi bukanlah tentang menjadi ‘Western’ atau kehilangan jati diri, melainkan tentang kemampuan untuk terhubung, berkolaborasi, dan memberikan kontribusi yang bermakna dalam percakapan global tentang isu-isu kesehatan, mulai dari penanganan pandemi, kesehatan ibu dan anak, hingga tantangan penyakit tropis,” serunya di hadapan hampir lima ratus orang peserta yang memadati aula utama.

Kuliah umum ini diwarnai dengan diskusi yang sangat hidup, dimana banyak mahasiswa yang bertanya tentang strategi untuk mengatasi rasa tidak percaya diri ketika harus berkomunikasi dengan tenaga kesehatan asing yang dianggap lebih superior, di mana Prof. Damoco menekankan bahwa kompetensi dan rasa percaya diri itu dibangun melalui latihan terus-menerus dan kesadaran bahwa setiap budaya membawa perspektif unik yang sama berharganya.

“Jangan pernah meragukan kapasitas diri Anda hanya karena Bahasa Inggris bukan bahasa ibu Anda, justru kemampuan Anda untuk berbicara dalam lebih dari satu bahasa adalah sebuah kekuatan super yang harus Anda banggakan di panggung internasional,” tambahnya disambut tepuk tangan meriah dari seluruh audiens yang hadir.

Menyentuh ranah yang lebih teknis dan spesifik, workshop hari ketiga dan keempat secara intensif membedah “Effective Patient Education and Health Counselling in a Multicultural Environment” serta “Interprofessional Communication in International Research Teams”, yang kembali menegaskan bahwa komunikasi dalam dunia kesehatan adalah tulang punggung dari pelayanan yang berkualitas dan penelitian yang berdampak.

Melalui berbagai role-play yang menantang, peserta dilatih untuk menjelaskan prosedur medis yang kompleks, regimen pengobatan jangka panjang, dan konsep kesehatan preventif kepada pasien dengan tingkat pendidikan, keyakinan, dan latar belakang budaya yang beragam, dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami, visual aids yang efektif, dan yang terpenting, pendekatan yang menghormati nilai-nilai yang dianut pasien.

“Sebuah penjelasan medis yang brilliant menjadi tidak ada artinya jika tidak dapat dipahami oleh pasien atau bahkan bertentangan dengan keyakinan kultural mereka, sehingga tugas kitalah sebagai tenaga kesehatan untuk menemukan ‘common ground’ dan membangun jembatan pemahaman yang memungkinkan kepatuhan terhadap pengobatan,” jelas Prof. Damoco sambil mendemonstrasikan cara menjelaskan pentingnya vaksinasi kepada seorang ibu yang berasal dari komunitas tradisional dengan menggunakan analogi-analogi budaya lokal.

Di sisi lain, untuk para peneliti dan dosen, sesi tentang komunikasi dalam tim penelitian internasional membuka wawasan tentang bagaimana mengelola proyek kolaboratif secara virtual, menyelaraskan ekspektasi antar anggota tim dari negara berbeda, menyusun agenda rapat yang produktif, serta menyelesaikan konflik yang timbul akibat misinterpretasi bahasa dan budaya secara elegan dan konstruktif.

Menutup rangkaian program yang sangat padat dan berharga ini, sebuah sesi khusus “Train the Trainers” digelar untuk memastikan keberlanjutan program di mana para dosen Bahasa Inggris dan metodologi penelitian di STIKES Buleleng diberikan pelatihan khusus untuk menjadi master trainer yang akan melanjutkan estafet pembelajaran ini kepada mahasiswa dan rekan dosen lainnya di kemudian hari.

Prof. Reyes tidak hanya membagikan seluruh materi presentasi dan modul workshop-nya, tetapi juga melakukan coaching intensif tentang teknik fasilitasi dan metode evaluasi yang efektif, sehingga diharapkan keahlian ini tidak hilang begitu saja setelah kepergiannya dan justru dapat dikembangkan menjadi sebuah kurikulum pelatihan berkelanjutan yang khas STIKES Buleleng.

“Tujuan akhir dari kunjungan saya ke kampus yang sangat bersemangat ini bukan untuk menciptakan ketergantungan, melainkan untuk menyalakan api yang akan terus berkobar dan menyebar, di mana para dosen dan mahasiswa di sini nantinya akan menjadi agen-agen perubahan yang akan mendorong transformasi budaya komunikasi di seluruh institusi kesehatan di wilayah Bali Utara bahkan Indonesia,” tutur Prof. Damoco dalam pidato penutupannya yang penuh haru.

Dr. Sunda, mewakili seluruh jajaran pimpinan STIKES Buleleng, menyampaikan apresiasi yang tak terhingga atas dedikasi dan pengetahuan yang telah dibagikan oleh Prof. Damoco, serta menegaskan komitmennya untuk segera mengalokasikan sumber daya guna membentuk sebuah “Center for Global Health Communication” di bawah naungan LPPM yang akan bertanggung jawab untuk melanjutkan program-program semacam ini secara reguler. Penelitian bersama menjadi bahasan utama dalam sesi pertemuan ini yang juga dihadiri oleh dosen pengampu bahasa inggris.

“Ini baru langkah awal dari perjalanan panjang kami menuju internasionalisasi, dan ke depan kami akan mendatangkan lebih banyak lagi pakar dari berbagai belahan dunia untuk membekali keluarga besar STIKES Buleleng dengan kompetensi-kompetensi global terbaru, karena kami yakin bahwa masa depan kesehatan dunia akan sangat ditentukan oleh kolaborasi tanpa batas dan kami tidak ingin hanya menjadi penonton, melainkan pemain aktif di dalamnya,” pungkasnya penuh tekad, menutup acara yang telah menorehkan babak baru yang sangat progresif dalam sejarah pengembangan diri STIKES Buleleng.

KUI_humas

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
Scroll to Top