Ilmu keperawatan pada prinsipnya menggantungkan antara ilmu kedokteran dan ilmu psikologi. Marriner dalam penelitiannya mengunggkap bahwa 3/4 pelayanan kesehatan adalah perawat. Perawat dituntut memiliki pengetahuan tentang manusia, aspek tumbuh kembang, respon terhadap lingkungan yang terus berubah, keterbatasan dan kekuatan serta kebutuhan-kebutuhan manusia. Jadi kegiatan keperawatan ini sendiri tidak saja berkutat di rumah sakit, tetapi terbagi menjadi beberapa bagian seperti keperawatan komunitas (masyarakat), keperawatan gawat darurat, keperawatan maternitas (anak-anak dan ibu hamil), keperawatan gerotik (lansia), keperawatan medikal bedah (bedah dan penyakit dalam), dll.

Para perawat hendaknya memiliki kepribadian yang bukan merupakan konsep tunggal, melainkan adalah sebuah konsep yang kompleks dan semua itu ada dalam diri kita, untuk itu menjadi seorang perawat diperlukan keterampilan untuk mengelolanya agar dapat menjadi pribadi yang humanis dan berdayaguna.

Dengan ditetapkannya Masyarakat Ekonomi Asian (MEA) pada tahun 2015, pelatihan Basic Trauma and Cardiac Life Support (BT & CLS) menjadi salah satu persyaratan mutlak yang harus dimiliki oleh perawat yang bekerja di rumah sakit, puskesmas, atau pelayanan kesehatan lainnya. Pelatihan BT & CLS ini diselenggarakan untuk memberikan pengetahuan dan kesempatan untuk praktek secara langsung dalam menangani pasien dengan kasus-kasus trauma dan kardiovaskular sehingga dapat meminimalisir tingkat kecacatan atau kematian akibat kasus trauma dan jantung. Selain itu, melalui BT & CLS, peserta diharapkan memperoleh penguasaan materi dan keterampilan sebagai bekal dalam memberikan pertolongan pada penderita/pasien dengan kondisi kegawatdaruratan serta mendapatkan edukasi PPI terkait dengan kondisi terkait pandemi Covid-19.

Mengingat pentingnya kegiatan BT & CLS tersebut maka STIKes Buleleng bekerjasama dengan DPD PPNI Kabupaten Buleleng dan YAGD 118 Jakarta mengadakan pelatihan BT & CLS ke-5 yang diikuti oleh 96 peserta yang dibagi menjadi dua sesi. Oleh karena adanya pandemi Covid-19, kegiatan ini dibuka secara daring oleh Direktur YAGD 118 Jakarta, Ibu Asti Puspita Rini, S.Kep., Ners., S.Sos., M.Mtr. dan Ketua STKes Buleleng, Bapak Dr. Ns. I Made Sundayana, S.Kep., M.Si. Peserta mengikuti kegiatan pemaparan materi oleh fasilitator yang merupakan Tim Yayasan Ambulans Gawat Darurat 118 Jakarta sebagai narasumber melalui Zoom Meeting selama tiga hari, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan on site oleh para instruktur Bali yang merupakan dosen STIKes Buleleng yaitu Ns. Mochamad Heri, S.Kep., M.Kep. dan Ns. Ni Made Martini, S.Kep., M.Kep., dua orang praktisi RSUD Mangusada Badung, dan satu orang praktisi akademi dari ITEKES Bali selama dua hari. Seluruh tim fasilitator dan instuktur memiliki sertifikat Training of Trainer (TOT) di bidang Gawat Darurat dan juga sudah memiliki kualifikasi Master of Training (MOT), dan telah mengikuti sertifikasi BLS & ACLS dari American Heart Association (AHA) dan The Society of Trauma Nurses and Disaster Management sehingga kualitas para tim tidak perlu diragukan lagi.

Untuk mendukung kegiatan pelatihan, STIKes Buleleng pun menyusun kepanitiaan agar kegiatan dapat berjalan dengan maksimal. Panitia yang diketuai oleh Ibu Ns. Putu Indah Sintya Dewi, S.Kep., M.Si., M.Kes. beserta sekretaris, anggota teknis serta anggota administrasi sangat giat berkoordinasi dengan tim dari Jakarta dan institusi lainnya.

Pelatihan BT & CLS daring untuk sesi pertama dilaksanakan pada Senin-Rabu, 29-31 Maret 2021 kemudian dilanjutkan dengan praktek secara luring pada Sabtu-Minggu, 3-4 April 2021, sedangkan sesi kedua dilaksanakan secara daring pada Rabu-Jumat, 31 Maret-2 April 2021 dan luring pada Senin-Selasa, 5-6 April 2021 yang tentunya dilaksanakan dengan mematuhi protokol kesehatan mulai dari pengecekan suhu tubuh, mencuci tangan, wajib masker, serta penyemprotan disinfektan sebelum ruangan digunakan. Sebelum mengikuti kegiatan, para calon peserta wajib mengikuti tes awal dan tes akhir setelah kegiatan berakhir baik teori maupun praktek dengan batas nilai lulus yang harus dilampaui oleh peserta. Adapun materi yang diberikan antara lain Trauma Pediatrik, Wanita, dan Geriatri, Trauma Muskuloskeletal, Extrikasi dan Transportasi, Keracunan, dsb yang berkaitan dengan materi kegawatdaruratan dan materi edukasi PPI lainnya. Melalui kegiatan BT & CLS ini diharapkan para peserta dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilannya sebagai mahasiswa/calon perawat dalam menangani kasus kegawatdaruratan. Pelatihan yang diberikan baik dalam teori dan praktek juga diharapkan dapat mewujudkan perawat Indonesia yang siap dalam mengemban tugas di masyarakat sehingga dapat memberikan pelayanan yang baik, tuntas, dan maksimal.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *