Kecerdasan ialah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar. Kecerdasan biasanya merujuk pada kemampuan atau kapasitas mental dalam berpikir.

Saat ini dipandang penting untuk merenungkan bagaimana cara menumbuhkan dan mempertajam 5Q yang mencangkup lima kecerdasan manusia. Sebuah prolog indah yang disampaikan dan dibentuk dalam sebuah buku oleh IK Eriadi Ariana dengan judul buku Ekologisme Batur memaparkan banyak sekali wawasan dan pemahaman baru yang sangat menarik untuk dinikmati dan mesti kita pahami. Adapun sumber yang penulis gunakan sebagai bahan rujukan dari tulisan ini didapatkan melalui prolog Bapak Ir. Jero Wacik, S. E. dan I Ngurah Suryawan.

Secara umum kita hanya baru mengukur suatu kecerdasan dari aspek kemampuan intelektual seseorang saja. Padahal terdapat beberapa poin penting mengenai kecerdasan manusia yang tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektualnya saja, tetapi bagaimana kita juga dapat menyeimbangkan kecerdasan lainnya sehingga terciptalah 5Q yang terdiri dari Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), Spiritual Quotient (SQ), Adversity Quotient (AQ), dan Love Quotient (LQ).

Intelligence Quotient (IQ) adalah kecerdasan manusia, dimana manusia telah dinilai memiliki kemampuan intelektual, analisis, logika dan rasio yang tinggi. Kecerdasan memang komponen yang penting, tetapi kecerdasan tinggi bukanlah jaminan kesuksesan seseorang, terlebih seperti yang telah tersampaikan pada buku tersebut, dimana pemahaman yang mendalam mengenai lima kecerdasan ini perlu diupayakan dalam rangka mencapai keseimbangan dan tentunya hal tersebut dapat dijadikan sebagai pedoman yang dapat dikembangkan di lingkungan kampus, baik oleh mahasiswa maupun dosen.

Emotional Quotient (EQ) adalah kecerdasan emosional. Memiliki EQ tinggi sangatlah penting yang mencakup tentang bagaimana kita harus mampu mengendalikan emosi dalam diri kita. Kecerdasan emosional pada masa pandemi seperti saat ini sangatlah penting. Kita hidup dalam situasi yang sangat tidak biasa dan hal tersebut sangat memungkinkan timbulnya kekacauan diri. Keadaan yang memaksa kita untuk membatasi diri dalam banyak hal membuat kita mau tidak mau harus memiliki kemampuan untuk mengatasi ketidakpastian di masa depan. Terlebih lagi media kian membagikan informasi yang menimbulkan rasa takut dan stres. Berbekal dengan EQ, kita diharapkan tidak akan kehilangan kendali dan mampu mengelola emosi dengan baik.

Spiritual Quotient (SQ) adalah kecerdasan spiritual. Hidup yang kita jalani bukan semata-mata untuk memperoleh materi akan tetapi harus benar-benar dihayati. Meyakini serta mempertebal iman dan taqwa perlu kita lakukan untuk menanamkan budi dan akhlak mulia agar segala sesuatu yang kita lakukan tidak akan terlepas dari rasa syukur kepada Tuhan sehingga apa yang kita kerjakan akan terasa bermakna, nikmat, dan kita lakukan penuh dengan suka cita, tanpa keterpaksaan belaka. Hal inilah yang harus dilakukan di lingkungan kampus selain berfokus pada kecerdasan intelektual dan pengendalian emosi untuk memelihara kedamaian secara sekala dan niskala.

Adversity Quotient (AQ) adalah kecerdasan untuk menghadapi segala kesulitan dan tantangan hidup.  Hidup tidak akan selalu bisa berjalan sesuai dengan yang kita inginkan dan tidak ada satupun orang yang tidak memiliki masalah dalam hidupnya. Namun sebenarnya bukan permasalahan itulah yang menjadi persoalan. Hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana sikap kita dalam menghadapi setiap masalah yang ada di dalam kehidupan ini.

Love Quotient (LQ) adalah kecerdasan atau kemampuan mencintai. Seseorang tidak hanya ingin terbebas dari masalah tetapi juga ingin mendapatkan kebahagiaan. Untuk menjalin ketentraman dalam pergaulan maupun lingkungan sangatlah penting untuk memiliki kepedulian, saling memahami dan menyayangi, menebarkan rasa cinta untuk diri sendiri dan makhluk hidup lain di setiap harinya. Rasa cinta tersebut haruslah bertumbuh di setiap civitas akademika sehingga rasa saling peduli dan menyayangi tertanamkan dalam lingkungan kehidupan kita. Jadilah orang dewasa yang menginspirasi, layaknya puisi dan lagu yang menumbuhkan bunga di hati para penikmatnya. “Otak bisa saja digantikan oleh mesin, tetapi mesin tidak pernah bisa menggantikan hatimu”. Ayo bersama berdamai menyeimbangkan 5 kecerdasan ini. Pahami dan mulai tumbuhkan serta pertajam pemahaman ini agar kecerdasan yang kita miliki tidak kita gunakan untuk  berlomba atau bersaing menjadi orang pintar secara intelektual, tetapi juga menyadari bahwa kecerdasan emosional dan spiritual, kemampuan mengatasi masalah hidup dan kesadaran untuk memiliki cinta kasih harus dijadikan dasar untuk menyeimbangkan ekologi atau lingkungan kita.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *